Langsung ke konten utama

Postingan

Belum Terlambat

Tak banyak orang yang mengkritikku. Hanya ada beberapa. Itupun karena aku minta. Dan kalau yang suka rela itu biasanya hanya orang terdekatku, terutama adikku, yang ceplas-ceplos dan nyebelin, tetapi suka bener wkwk. Ya begitulah kalau sama adik sendiri haha. Meski begitu, aku juga masih begini-begini saja. Namun, setidaknya ada kritikan dari 2 orang temanku yang sangat mengena setelah aku merenungi dalam-dalam. Beginilah intinya, "Mbak Eka itu banyak keinginan, tetapi mudah menyerah. Kurang ambisius dalam mencapainya. Mudah mengalah dan pasrah". Awalnya biasa saja. Ah, memang mungkin itu kekuranganku. Tetapi, lambat laun aku berpikir, hal seperti ini akan sangat merugikan diriku sendiri. Tanpa target yang jelas. Tanpa cita-cita yang tinggi. Tanpa azzam yang kuat. Sungguh melenakan dan melemahkan potensi. Aku teringat ucapan dosenku, saat aku ta'lim di rumah beliau. Kita ini semua merugi, kecuali orang-orang beriman, yang beramal shaleh, saling menasehati dalam kebaikan, ...

Waktuku Sia-Sia

Hampir seharian ini waktuku habis untuk merenung. Merenungi tentang "apa tujuan hidupku?" Kadang, waktuku habis sia-sia, hanya untuk overthinking, memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan. Kadang, waktuku habis untuk membanding-bandingkan dengan orang lain, merenungi setiap komentar orang lain yang tak sepenuhnya ada manfaat untukku. Hanya buang-buang waktu. Kadang pula, aku hanya sibuk melihat kesuksesan orang lain. Ada teman yang sudah hafal 10 juz, aku iri. Ada teman yang pandai dalam mengajarkan Al-Qur'an, aku pun iri. Tapi sayang, hanya sekadar iri.  Tak jarang berujung pada keinginan dan cita-cita untuk menjadi seperti itu pula. Namun, seringkali hanya berujung pada keinginan, tidak ada ambisi dan usaha untuk mencapainya dengan kesungguhan. Atau bahkan, aku tiba-tiba merasa insecure, tidak percaya diri. Belum mencoba, sudah berkata, "Ah, aku tidak bisa. Ini sulit bagiku". Waktuku habis untuk hal-hal demikian. Hingga aku tak banyak berkembang k...

Adalah Kamu

Beberapa saat yang lalu, saya bersih-bersih kamar. Menemukan banyak kenangan semasa SMA. Mulai dari buku catatan sekolah, puisi-puisi, kalimat-kalimat motivasi, cerpen-cerpen tulisan saya, hingga lembaran kertas berisi mimpi-mimpi saya. Dan tadi, entah mengapa saya tertarik untuk mengambil kertas mimpi saya. Berisi 50 mimpi yang saya tuliskan saat saya masih kelas X SMA. Saya perhatikan lamat-lamat. Satu persatu saya baca ulang. Sesekali ingin tertawa ketika membacanya. Mimpi saya yang konyol ialah saya ingin makan coklat sepuasnya di negara-negara Eropa. Lalu yang kedua, saya ingin punya kebun stroberi. Dari rentetan mimpiku semasa SMA, tak ada yang mimpi besar. Semua biasa-biasa saja. Sangat standar, bahkan abstrak.  Begitulah saya pada saat itu. Tak ada pikiran untuk bermimpi besar. Itupun saya menuliskannya ketika mendapatkan tugas dari murabbi liqo saya, bukan keinginan saya sendiri. *** Mencermati mimpi saya di masa SMA, saya kemudian merenung. Kemudian saya pun membandingkan...

Microbial Fuel Cells (MFC) Berbasis Pelepah Batang Pisang sebagai Solusi untuk Memperbaiki Ketahanan Energi Listrik di Indonesia

ABSTRAK. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan perubahan gaya hidup, tingkat kebutuhan energi di Indonesia hampir selalu meningkat pada setiap tahunnya. Data Energy Consumption pada Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia oleh Kementerian ESDM (2016) menunjukkan adanya peningkatan konsumsi energi pada setiap tahunnya. Pada tahun 2013 jumlah final konsumsi energi sebesar 1.096.716.521 BOE dan pada tahun 2014 meningkat cukup signifikan menjadi 1.114.002.960 BOE. Hal inilah yang mendorong penulis mengajukan gagasan mengenai energi alternatif. Solusi yang ditawarkan yaitu berupa Microbial Fuel Cells (MFC) berbasis pelepah batang pisang sebagai salah satu energi listrik terbarukan. Microbial fuel cell (MFC) mengubah energi kimia menjadi energi listrik melalui reaksi katalitik yang menggunakan mikroorganisme. MFC berbasis pelepah batang pisang dapat dirancang melalui beberapa tahapan. Tahapan ini yang dapat menentukan keberhasilan MFC untuk menyediakan energi listrik di m...

Ketenangan Hati

Tiada yang lebih berharga dari pada ketenangan jiwa. Tiada yang lebih menyenangkan dibandingkan hati yang bersih. Terucap selamat dan doa-doa kebaikan ketika melihat nikmat Allah yang diberikan kepada orang lain. Merasa iri pada orang-orang kaya yang dermawan dan orang-orang berilmu yang mengajarkan ilmunya. Bukan hanya iri tersebab kekayaan dan keterkenalannya. Garis takdir yang diberikan Allah begitu tertata. Luar biasa. Allah mempertemukan dengan orang-orang baik sebagai tempat belajar. Namun sayang, terkadang kita yang tak menyadari, bahkan menggerutu bahwa itu bukanlah kebaikan. Kita masih sering berandai-andai, memandang dari sisi negatif. Astaghfirullah. Allah, maafkan aku. Biarlah kalimat taubatku terabadikan disini. Pada-Mu dan pada diriku sendiri, aku berjanji, aku bertaubat. Aku inginkan hati yang selamat, meninggal khusnul khatimah. Allah, maafkan aku :) Semoga Engkau karuniakan ketenangan hati.

Adalah Hati

Suatu ketika, keluhan terucap dari bibir kita. Banyak angan dan ingin. Kadang, kenikmatan orang lain yang menjadi bahan perbandingan. Keberhasilan orang lain yang menjadi tolok ukur. Sering bahkan, ketika kita membandingkan nikmat kita dengan orang lain, bukannya kita bertambah syukur, namun malah terus merasa kurang dan kurang. Astaghfirullah. Ada suatu ketika pula, kita merasa telah banyak beramal. Shalat, mengaji, puasa, sedekah, dsb. Namun, di saat itu pula terkadang ketenangan tak jua kita dapatkan. Kita kadang masih mengharap pujian dan penilaian dari orang lain. Kadang pula, kita semakin ujub, bangga diri, merasa lebih dibandingkan yang lain. Astaghfirullah. Lalu, sebenarnya apa yang dicari? Harta? Pangkat? Terkenal? Pujian? Semua itu adalah DUNIA.  Sungguh amat merugi, jika kita terus menerus membandingkan diri kita hanya karena perkara dunia. Karena sungguh, dunia begitu hina, lebih hina dari satu sayap nyamuk. Begitu tak berharga. Karenanya, yang paling penting untuk kita...

24 Tahunku untuk Apa?

6 Agustus, 24 tahun yang lalu. Allah memberikan izin kepadaku untuk melihat dunia. Sebenarnya, aku bukanlah orang yang biasa memperingati hari kelahiran. Namun, tidak berlebihan rasanya jika saat ini kugunakan untuk refleksi diri. Tentu masih jauh rasanya, jika pencapaianku saat ini dibandingkan dengan pencapaian para pendahulu pada usia yang serupa. Nabi Muhammad SAW pada usia 25 tahun sudah diangkat menjadi rasul. Di usia yang sama, Al-Fatih telah berhasil menakhlukkan Konstatinopel. Sementara Usamah bin Zaid telah berhasil menjadi komandan dalam perang menyerbu wilayah Syam dalam usia 18 tahun. Sebenarnya, aku tidak hendak membanding-bandingkan orang yang tidak berada pada zona waktu yang sama. Ya tentu saja berbeda. Namun, bagaimanapun contoh terbaik ialah orang-orang yang ada di zaman nabi, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya. Hal yang paling aku renungi pada usia yang hampir seperempat abad ini ialah apakah aku telah benar-benar menjalani aktivitas dengan tujuan yang aku ing...