Ada saat-saat tertentu ketika seseorang mulai diam-diam mempertanyakan dirinya sendiri. Bukan karena melakukan kesalahan besar. Bukan juga karena pernah berniat menyakiti siapa pun. Namun setelah terlalu sering merasa diabaikan, tidak didengar, atau dianggap biasa saja, perlahan muncul pertanyaan yang sulit ditepis: apakah memang seburuk itu? Awalnya mungkin hanya hal kecil. Pendapat yang jarang dianggap penting. Kehadiran yang mudah terlewatkan. Usaha yang dianggap biasa. Lama-kelamaan, semuanya menumpuk menjadi perasaan yang tidak mudah dijelaskan. Yang paling melelahkan sering kali bukan perlakuan kasar, melainkan perasaan terus-menerus tidak benar-benar dianggap ada. Akhirnya banyak orang mulai mengecilkan dirinya sendiri. Menahan pendapat, mengurangi harapan, dan berhenti banyak bicara karena merasa percuma jika pada akhirnya tetap tidak dipahami. Padahal, belum tentu ada yang salah dengan dirinya. Kadang seseorang hanya terlalu lama berada di tempat yang tidak mampu memberi ruang...
Ada kalanya seseorang tidak merasa sedang bersaing dengan siapa pun, tidak merasa menyakiti siapa pun, bahkan tidak sedang mencari perhatian. Namun entah mengapa, keberadaannya tetap terasa tidak cukup bagi sebagian orang. Bukan tentang dibenci secara terang-terangan. Kadang bentuknya lebih halus dari itu. Tidak diajak bicara saat pendapat dibutuhkan. Tidak disebut meski ikut berkontribusi. Tidak benar-benar didengar kecuali mengikuti arah yang diinginkan orang lain. Perlahan, seseorang bisa merasa hadir tanpa benar-benar dianggap ada. Yang paling melelahkan sering kali bukan pertengkaran besar, melainkan kebiasaan kecil yang terus berulang. Ketika seseorang diharapkan selalu mengerti, selalu menyesuaikan diri, selalu mengikuti ritme orang lain, sementara keinginannya sendiri dianggap terlalu banyak atau tidak penting. Akhirnya banyak orang memilih diam. Bukan karena tidak punya pendapat, tetapi karena merasa percuma menjelaskan. Ada titik ketika seseorang lelah memperjuangkan tempat d...