Tidak semua orang pandai membuat dirinya terlihat. Ada yang hadir dengan suara paling ramai, ada yang dikenal karena selalu ada, dan ada pula yang memilih berjalan lebih tenang tanpa banyak menunjukkan diri. Sering kali, orang-orang yang tampak biasa saja justru sedang menjalani banyak hal dalam hidupnya. Waktunya terbagi, pikirannya penuh, dan tenaganya digunakan untuk menyeimbangkan berbagai tanggung jawab yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Karena itu, tidak semua orang bisa selalu hadir lebih lama, ikut dalam setiap percakapan, atau memiliki banyak kesempatan untuk membangun kedekatan seperti yang lain. Kadang ada seseorang yang datang seperlunya, berbicara secukupnya, lalu kembali tenggelam dalam rutinitasnya sendiri. Kehadirannya mungkin tidak terlalu sering, tidak banyak diingat, dan perlahan mulai terlupakan. Namun, hal-hal sederhana seperti diingat, disapa, ditanyakan kabarnya, atau sekadar disadari keberadaannya saja sudah terasa berarti. Sebab, kita tidak pernah bena...
Kadang ada momen kecil yang terasa mengganggu—ketika respon yang kita harapkan tidak datang seperti yang kita bayangkan. Niatnya ingin bersikap hangat, ingin menyapa, ingin memberi. Tapi yang diterima justru sebaliknya. Ada yang terasa dingin, ada yang tidak tersambut, ada juga yang seperti tidak dihargai. Di situ, wajar kalau muncul rasa kesal, meski hanya sebentar. Tapi pelan-pelan jadi belajar, tidak semua hal harus berjalan sesuai harapan kita. Setiap orang punya cara, punya keadaan, dan punya perasaan yang tidak selalu terlihat. Apa yang tampak di luar belum tentu mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam. Dan tidak semua hal berkaitan dengan kita. Di titik itu, rasanya lebih tenang ketika mengingat bahwa kita tidak bisa mengatur respon orang lain. Yang bisa kita jaga hanyalah niat dan sikap kita sendiri. Kalau sudah berusaha bersikap baik, menyampaikan dengan tulus, itu sudah cukup. Tidak harus selalu dibalas dengan cara yang sama. Kadang memang perlu belajar untuk tidak ...