Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Waktu Itu Ada, tetapi Mengapa Terasa Tidak Cukup?

Kadang muncul rasa lelah dan merasa waktu terasa kurang. Banyak hal yang harus dilakukan—mengurus rumah, mencuci, memasak, hingga berbagai tanggung jawab lainnya. Sekilas terasa seperti waktu memang tidak cukup. Namun ketika dipikirkan kembali, bukan selalu karena aktivitasnya yang terlalu banyak, melainkan karena waktu yang belum dimanfaatkan dengan baik. Tanpa disadari, cukup banyak waktu yang habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting, seperti terlalu lama scroll media sosial. Terasa sebentar, tapi ternyata menghabiskan banyak waktu tanpa benar-benar memberi manfaat. Di titik itu mulai muncul pertanyaan, mungkin bukan waktunya yang kurang, tapi keberkahannya yang belum terasa. Karena waktu yang sedikit bisa terasa cukup jika berkah, dan waktu yang banyak pun bisa terasa habis begitu saja jika tidak dijaga. Keberkahan waktu bukan hanya tentang banyaknya waktu yang dimiliki, tapi bagaimana waktu itu digunakan. Apakah diisi dengan hal yang mendekatkan pada ...

Anak Aktif dan Ruang yang Tidak Selalu Mengerti

Tidak semua hal yang kita inginkan bisa dijalani dengan mudah di setiap fase kehidupan. Termasuk keinginanku untuk lebih aktif ikut kegiatan, datang ke kajian, atau sekadar duduk tenang di masjid. Nyatanya, itu tidak selalu sederhana ketika harus membawa anak yang sangat aktif. Anakku tipe yang tidak bisa diam lama. Kalau diajak ke masjid, dia bisa lari ke sana ke sini, penasaran dengan banyak hal, dan sulit untuk duduk tenang dalam waktu lama. Pernah suatu waktu, ada yang berkomentar, “Anaknya mrusul ya” (istilah Jawa-nya banyak tingkah). Aku tahu mungkin itu hanya celetukan biasa, tidak ada niat buruk. Tapi sebagai ibu, tetap saja ada perasaan tidak nyaman. Di kesempatan lain, aku mencoba ikut kajian. Tapi tentu saja tidak bisa fokus sepenuhnya seperti yang lain. Aku memilih membacakan buku untuk anakku supaya dia tetap di dekatku dan tidak berlarian. Di saat itu, aku merasa sudah melakukan yang terbaik yang aku bisa. Tapi lagi-lagi ada komentar, “Kajian kok baca buku?” Kalimat se...

Tidak Harus Sempurna, Tapi Harus Konsisten

Banyak orang ingin memperbaiki hidupnya. Ingin ibadah lebih baik. Ingin lebih sehat. Ingin lebih produktif. Ingin lebih hadir untuk keluarga. Masalahnya bukan di keinginan. Masalahnya ada di cara memulainya. Sering kali, semua ingin diperbaiki sekaligus. Semua ingin langsung rapi. Semua ingin langsung berubah. Dan akhirnya… tidak ada yang benar-benar berjalan. Karena terlalu berat di awal. Kita membuat standar yang tinggi, lalu kecewa ketika tidak mampu menjalaninya. Padahal, perubahan tidak bekerja seperti itu. Hidup tidak butuh lompatan besar yang sesekali dilakukan. Hidup butuh langkah kecil yang terus diulang. Sederhana, tapi tidak mudah. Bangun lebih pagi sedikit. Makan lebih teratur. Menyelesaikan satu pekerjaan kecil. Menjaga satu kebiasaan baik. Terlihat biasa saja. Tapi di situlah letak kuncinya. Bukan pada seberapa banyak yang dilakukan hari ini, tapi pada apakah itu dilakukan lagi besok. Dan besoknya lagi. Konsisten itu tidak terlihat hebat di awal...

Belajar Membuat Batas, Agar Hati Tidak Terlalu Lelah

Ada satu hal yang baru benar-benar aku pelajari akhir-akhir ini… tentang membuat batas ( boundary ). Dulu, aku berpikir bahwa menjadi orang baik itu artinya selalu terbuka. Mendengarkan semua orang, menerima semua komentar, dan sebisa mungkin tidak menolak apa pun agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Tapi ternyata, tidak sesederhana itu. Ada kalanya, justru karena kita terlalu terbuka, kita jadi terlalu sering terluka. Tidak semua orang bermaksud jahat, tapi tidak semua ucapan juga bisa kita terima begitu saja. Ada kata-kata yang mungkin terdengar biasa bagi yang mengucapkan, tapi bagi yang menerima, bisa terasa dalam. Dan aku mulai menyadari… kalau semua itu terus dibiarkan, yang lelah bukan orang lain— tetapi hati kita sendiri. Dari situ, aku pelan-pelan belajar membuat batas. Bukan untuk menjauh dari semua orang, bukan juga untuk memutus silaturahmi. Tapi untuk menjaga diri, agar tidak terus-menerus berada di situasi yang membuat hati tidak nyaman. Aku juga mulai men...

Anaknya Kok Nggak Didulukan?—Cerita Kecil yang Membekas

Waktu itu, aku diajak suami buka puasa di rumah keluarga. Setelah azan, aku mengambil makanan secukupnya untuk berbuka. Tiba-tiba ada yang berkomentar, “Loh, kok makannya duluan? Anaknya nggak didulukan?” Aku sempat diam sebentar. Dalam hatiku langsung menjawab, Ini cuma buka puasa. Aku juga cuma ambil sedikit. Nanti juga anakku aku siapkan… Tapi ternyata tidak berhenti di situ. Komentarnya berlanjut, “Kasihan, itu anaknya kurus… harusnya didulukan, orang tuanya gendut. Orang tuanya malah makan duluan.” Jujur, di momen itu aku kesal. Bukan sekadar karena dikomentari dan body shaming , tapi karena yang dibawa-bawa adalah anakku. Seolah-olah aku tidak memperhatikan, seolah-olah aku tidak tahu bagaimana merawat anakku sendiri. Padahal, tidak semua yang terlihat dalam satu momen bisa menggambarkan keseluruhan. Aku tahu bagaimana keseharian anakku. Aku tahu bagaimana aku dan suami berusaha memberikan yang terbaik. Dan aku juga tahu satu kejadian kecil itu tidak bisa menjadi...

Kadang, Diam Adalah Cara Menjaga Diri

Ada satu fase dalam hidup di mana kita mulai belajar… Tidak semua omongan orang harus kita dengarkan. Bukan karena kita sombong, bukan juga karena kita merasa paling benar. Tapi karena kita mulai paham, tidak semua kata membawa kebaikan. Kadang, justru kata-kata itulah yang paling lama tinggal di hati. Yang awalnya hanya lewat di telinga, tapi kemudian berputar-putar di pikiran, dan perlahan melukai tanpa kita sadari. Dulu, aku termasuk orang yang cukup “mendengarkan semua”. Takut tidak enak, takut dianggap tidak sopan, takut kalau menolak nanti dinilai macam-macam. Tapi ternyata, terlalu banyak mendengar juga bisa melelahkan. Ada masa di mana kita perlu belajar menjaga diri. Belajar memilah—mana yang perlu didengar, mana yang cukup dilewatkan saja. Tidak apa-apa kalau sesekali kita menolak. Tidak apa-apa kalau kita memilih diam saat dikomentari. Tidak semua hal harus dijelaskan, tidak semua penilaian harus diluruskan. Dan yang lebih penting, tidak perlu takut pad...

Kuliah Terus Buat Apa?—Pertanyaan yang Menguatkanku

Halo, aku Eka. Seorang ibu dengan satu anak, yang saat ini Alhamdulillah Allah beri kesempatan untuk melanjutkan studi S3 Pendidikan Biologi. Keputusan ini bukan sesuatu yang mudah. Kalau mengingat masa S1 dan S2 dulu, rasanya sangat berbeda. Dulu, saat aku masih single . Mau ikut kegiatan apa pun, pergi ke mana pun, rasanya lebih bebas. Tidak banyak yang perlu dipikirkan. Sekarang, banyak yang berubah. Setiap langkah bukan lagi tentang aku saja, tapi juga tentang suami dan anak. Ada satu momen yang sampai sekarang masih aku ingat. Waktu itu, aku sedang bersilaturahmi ke salah satu keluarga. Obrolannya ringan, seperti biasa, sampai akhirnya muncul pertanyaan, “Sekarang kesibukannya apa?” Aku menjawab sederhana, “Aku mau kuliah lagi.” Respons berikutnya… jujur, cukup membuatku diam. “Loh, kuliah terus buat apa? Kapan kerjanya?” Aku tidak menjelaskan panjang lebar saat itu. Bukan karena tidak bisa, tapi karena rasanya tidak semua hal harus dijelaskan. Dalam hati, aku hanya mencoba m...

Reducing the Risk of Change of Law to Achieve Legal Certainty for Indonesian Businesses

By: Eka Imbia Agus Diartika Abstract: Regulatory uncertainty, or change of law, is one of the biggest obstacles facing businesses in Indonesia. Over the past five years, the government has rolled out various reforms—from simplifying risk-based licensing and the Job Creation Law to strengthening the OSS-RBA (Investment and Investment Management System) to improve the investment climate. However, this accelerated reform has often been accompanied by rapid, overlapping regulatory changes and minimal transition periods, resulting in additional compliance costs and delaying investment decisions. This study outlines how the speed of regulatory change, not matched by institutional readiness, weak central-regional coordination, and a lack of synchronization of technical regulations, has resulted in uncertainty in the licensing process and policy implementation. At the regional level, excessive caution due to fear of misinterpreting central regulations has prolonged permit issuance times and i...

Transformasi SDG Academy Indonesia sebagai Instrumen Akselerasi Kompetensi SDGs Berbasis Permasalahan Lokal

PENDAHULUAN Latar Belakang dan Rumusan Masalah Agenda Sustainable Development Goals (SDGs) bukan sekadar komitmen global, melainkan telah menjadi tujuan strategis pembangunan Indonesia (United Nations, 2015). Pencapaian SDGs 2030 sangat ditentukan oleh kapasitas sumber daya manusia dan kualitas pembelajaran yang mampu menerjemahkan kebijakan menjadi aksi nyata (UNDP, 2018). Dalam hal ini, penguatan kompetensi SDGs menjadi prasyarat utama agar pembangunan berkelanjutan tidak berhenti pada tataran normatif, sehingga dapat menjawab permasalahan nyata masyarakat (UNESCO, 2017). Indonesia tidak kekurangan dokumen perencanaan dan kerangka kebijakan SDGs, namun tantangan utamanya pada efektivitas implementasi dan relevansi kompetensi dalam mengatasi permasalahan lokal (UNDP, 2018). Pembelajaran SDGs sering bersifat konseptual, sehingga belum sepenuhnya membekali peserta dengan kemampuan analitis dalam merespons kompleksitas permasalahan lokal (Sterling, 2011; OECD, 2019). Kondisi ini menunjuk...