Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Tidak Semua Hal Perlu Diceritakan

Kadang kita cuma ingin satu hal sederhana: diakui. Bukan ingin pamer, bukan juga ingin dianggap paling hebat. Hanya ingin orang lain tahu bahwa kita pernah berusaha, pernah berjuang, pernah sampai di titik tertentu. Lalu tanpa sadar, cerita-cerita tentang pencapaian masa lalu mulai keluar. Mengalir saja, seperti ingin membuktikan sesuatu. Padahal sebenarnya tidak salah. Hanya saja, tidak semua orang menangkapnya dengan cara yang sama. Ada yang mendengarkan biasa saja. Ada yang justru merasa itu berlebihan. Bahkan ada yang diam-diam jadi kurang nyaman. Di situ kita mulai paham, ternyata tidak semua hal perlu diceritakan. Bukan karena harus menyembunyikan diri, tapi karena tidak semua ruang butuh kita untuk terlihat “hebat”. Kadang yang lebih penting justru sederhana: apakah kehadiran kita membuat orang lain nyaman atau tidak. Karena pada akhirnya, yang diingat orang bukan seberapa banyak kita bercerita, tapi bagaimana kita membawa diri.

Pintar Saja Tidak Cukup

Kadang kita terbiasa menilai dari yang terlihat. Siapa yang paling cepat. Siapa yang paling pintar. Siapa yang paling menonjol. Dan seringnya, itu yang dianggap “cukup”. Ada satu kisah sederhana. Tentang seseorang yang dikenal cerdas. Jalannya terlihat lancar, pencapaiannya baik, dan banyak harapan yang disandarkan padanya. Semua seperti berjalan sebagaimana mestinya. Sampai di satu momen, ada sikap yang kurang tepat dalam menyampaikan sesuatu. Mungkin terasa biasa saja saat itu, tidak dianggap masalah besar. Tapi ternyata, hal kecil itu membawa dampak. Perlahan, kepercayaan berubah. Bukan karena kemampuannya berkurang, tapi karena cara bersikapnya mulai dipertanyakan. Dan di titik itu, terasa… tidak semua hal bisa kembali seperti semula. Dari situ jadi terasa, bahwa pintar saja memang tidak cukup. Kepintaran bisa membuat langkah jadi cepat. Tapi adab yang membuat langkah itu tetap terarah. Sering kali kita terlalu sibuk mengejar hasil. Nilai yang baik. Pencapaian yang terlihat. Pengak...

Do Your Best… Tapi Jangan Sampai Salah Prioritas

“Do your best.” Kalimat sederhana yang sering jadi pegangan dalam hidup. Kita ingin melakukan yang terbaik. Dalam belajar, bekerja, mengejar mimpi. Memberikan usaha maksimal tanpa setengah-setengah. Dan itu tidak salah. Tapi ada satu hal yang sering luput disadari Ternyata “terbaik” itu tidak selalu berarti utuh. Ada sebuah kisah yang cukup menampar secara halus. Tentang seseorang yang berhasil mencapai puncak dalam kariernya. Secara profesional, tidak ada yang kurang. Bahkan mungkin menjadi gambaran “sukses” bagi banyak orang. Tapi di balik itu, ada hal yang pelan-pelan terlewat. Anak yang tumbuh tanpa banyak kehadiran orang tuanya. Pasangan yang di masa sulit lebih banyak ditangani oleh orang lain. Orang tua yang tidak sempat ditemani di masa tuanya. Semua tetap berjalan… tapi tidak benar-benar utuh. Dan di fase hidup berikutnya, waktu seperti berputar arah. Mulai ada upaya untuk hadir, merawat, memberi waktu kembali. Entah sebagai tanggung jawab atau mungkin sebagai cara hidup untuk...

New Normal dan Pilot Project Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

Oleh: Eka Imbia Agus Diartika Pandemi menjadi berita gembira bagi lingkungan. Di Indonesia, hal itu setidaknya terlihat pada berkurangnya produksi sampah total di sejumlah kota besar. Sejak work from home (WFH) diberlakukan, sampah di DKI Jakara turun hingga 620 ton perhari (CNN Indonesia, 2020), di Bogor turun hingga 100 ton perhari (Liputan 6, 2020), sementara di Denpasar yang normalnya 600-700 ton perhari, berkurang hingga rata-rata separuhnya (Kumparan, 2020). Penurunan utamanya terjadi pada sampah publik dan komersil. Sayangnya, hal itu berbanding terbalik dengan meningkatnya jumlah sampah rumah tangga. Sebab, selama WFH justru terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat. Tren belanja daring meningkat antara 27-36%, berdampak pada kenaikan jumlah sampah rumah tangga. Bahkan menurut studi LIPI, sampah rumah tangga menyumbang paling banyak, yaitu 62% dari total sampah nasional, yakni sekitar 200 ribu ton per hari (Liputan 6, 2020). Parahnya, hanya 1,2% rumah tangga yang mendaur ulan...

Bukan Soal Besar, Konsisten Itu Soal Rutin

Kadang kita ngerasa belum jadi orang yang konsisten. Punya banyak rencana, tapi sering berhenti di tengah jalan. Padahal sebenarnya, konsisten itu bisa dilihat dari hal sederhana: tujuan kecil yang kita buat itu jalan atau nggak? Nggak perlu langsung mikir target besar dulu. Coba lihat hal kecil sehari-hari. Contoh paling gampang: diet. Semua orang tahu tujuannya—pengen lebih sehat atau nurunin berat badan. Tapi yang bikin berhasil itu bukan semangat di awal, melainkan hal kecil yang diulang tiap hari. Hari ini bisa nggak ngurangin makan yang berlebihan? Bisa nggak nolak jajan yang nggak perlu? Bisa nggak tetap jalan meskipun hasilnya belum kelihatan? Kelihatannya sepele, tapi justru itu inti dari konsistensi. Karena konsisten bukan soal sekali melakukan hal besar, tapi melakukan hal kecil terus-terusan. Kalau hal kecil aja masih sering bolong, wajar kalau target besar susah tercapai. Sebaliknya, kalau hal kecil bisa dijaga, pelan-pelan kita bakal ngerasa, “Oh ternya...

Kebenaran Tidak Cukup Tanpa Cara yang Baik

Sering kali kita merasa sudah benar. Apa yang disampaikan tidak salah, bahkan mungkin penting untuk diingatkan. Tapi ada satu hal yang sering luput: cara menyampaikan. Karena pada kenyataannya, kebenaran tidak selalu diterima dengan baik kalau disampaikan dengan cara yang kurang tepat. Ada yang memberi nasihat dengan nada tinggi. Ada yang mengingatkan, tapi dengan kata-kata yang menyinggung, seakan mengadili. Ada juga yang menyampaikan hal yang benar, tapi tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Akhirnya, yang diingat bukan pesannya, tapi rasa tidak nyamannya. Padahal dalam Islam, cara menyampaikan itu juga bagian dari ajaran. Kita diajarkan untuk berkata baik atau diam. Bahkan dalam Al-Qur’an, berdakwah dianjurkan dengan hikmah dan cara yang baik. Artinya, kebenaran tidak hanya dilihat dari isinya, tapi juga dari bagaimana cara menyampaikannya. Kalau cara kita membuat orang lain merasa direndahkan, besar kemungkinan pesan itu tidak akan sampai. Bukan karena mereka m...