Do Your Best… Tapi Jangan Sampai Salah Prioritas

“Do your best.”

Kalimat sederhana yang sering jadi pegangan dalam hidup.

Kita ingin melakukan yang terbaik.
Dalam belajar, bekerja, mengejar mimpi.
Memberikan usaha maksimal tanpa setengah-setengah.

Dan itu tidak salah.

Tapi ada satu hal yang sering luput disadari
Ternyata “terbaik” itu tidak selalu berarti utuh.

Ada sebuah kisah yang cukup menampar secara halus.

Tentang seseorang yang berhasil mencapai puncak dalam kariernya. Secara profesional, tidak ada yang kurang. Bahkan mungkin menjadi gambaran “sukses” bagi banyak orang.

Tapi di balik itu, ada hal yang pelan-pelan terlewat.

Anak yang tumbuh tanpa banyak kehadiran orang tuanya.
Pasangan yang di masa sulit lebih banyak ditangani oleh orang lain.
Orang tua yang tidak sempat ditemani di masa tuanya.

Semua tetap berjalan… tapi tidak benar-benar utuh.

Dan di fase hidup berikutnya, waktu seperti berputar arah.
Mulai ada upaya untuk hadir, merawat, memberi waktu kembali. Entah sebagai tanggung jawab atau mungkin sebagai cara hidup untuk mengajarkan sesuatu yang dulu sempat tertunda.

Dari sini terasa jelas

Hidup bukan hanya soal seberapa maksimal kita berlari,

Tetapi juga apa yang kita tinggalkan di belakang saat berlari.

Sering kali, “do your best” dipahami terlalu sempit.

Seolah-olah hanya tentang pencapaian: gelar, karier, pengakuan.

Padahal hidup tidak terdiri dari satu peran saja.

Ada peran sebagai anak.
Sebagai pasangan.
Sebagai orang tua.
Dan sebagai hamba Allah.

Yang semuanya tidak bisa ditunda terus-menerus.

Masalahnya bukan pada kerja keras.
Bukan juga pada ambisi.

Tapi pada prioritas yang tidak ditata dengan sadar.

Karena tanpa disadari, seseorang bisa saja “berhasil” di satu sisi,
tapi kehilangan banyak hal di sisi lain.

Dan yang paling berat, tidak semua kehilangan bisa diperbaiki dengan cara yang sama.

Mungkin yang perlu diubah bukan semangat do your best,
tapi cara memaknainya.

Tentang diri sendiri.

Bahwa “terbaik” bukan hanya tentang seberapa tinggi pencapaian,
tapi juga tentang seberapa utuh peran dijalankan.

Bahwa “terbaik” bukan tentang menjadi lebih dari orang lain,
tapi tentang menjadi lebih baik dari diri sendiri.

Tentang hadir, bukan sekadar ada.
Tentang menemani, bukan sekadar menyediakan.
Tentang memperhatikan, bukan sekadar memenuhi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

Mengapa Anak Perlu Belajar dari Alam Sekitar?

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT