Langsung ke konten utama

Kebenaran Tidak Cukup Tanpa Cara yang Baik

Sering kali kita merasa sudah benar.
Apa yang disampaikan tidak salah, bahkan mungkin penting untuk diingatkan.

Tapi ada satu hal yang sering luput: cara menyampaikan.

Karena pada kenyataannya, kebenaran tidak selalu diterima dengan baik kalau disampaikan dengan cara yang kurang tepat.

Ada yang memberi nasihat dengan nada tinggi.
Ada yang mengingatkan, tapi dengan kata-kata yang menyinggung, seakan mengadili.
Ada juga yang menyampaikan hal yang benar, tapi tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Akhirnya, yang diingat bukan pesannya,
tapi rasa tidak nyamannya.

Padahal dalam Islam, cara menyampaikan itu juga bagian dari ajaran.
Kita diajarkan untuk berkata baik atau diam.
Bahkan dalam Al-Qur’an, berdakwah dianjurkan dengan hikmah dan cara yang baik.

Artinya, kebenaran tidak hanya dilihat dari isinya,
tapi juga dari bagaimana cara menyampaikannya.

Kalau cara kita membuat orang lain merasa direndahkan,
besar kemungkinan pesan itu tidak akan sampai.
Bukan karena mereka menolak kebenaran,
tetapi karena hati mereka sudah lebih dulu tertutup.

Sebaliknya, ketika disampaikan dengan tenang dan penuh pertimbangan,
kebenaran justru lebih mudah diterima.

Ini bukan soal harus selalu menyenangkan semua orang.
Tapi tentang menjaga adab dalam berbicara.

Karena dalam Islam, menjaga lisan itu bukan hal kecil.
Bahkan bisa menjadi penentu baik-buruknya seseorang.

Sederhananya,
kalau tujuannya ingin memperbaiki,
maka cara menyampaikan juga harus ikut diperbaiki.

Tidak semua hal harus disampaikan dengan cara keras.
Tidak semua nasihat perlu terdengar tajam agar dianggap benar.

Kadang, cara yang lembut justru lebih kuat pengaruhnya.

Sebelum berbicara, mungkin bisa bertanya ke diri sendiri:
ini ingin memperbaiki, atau hanya ingin dianggap paling benar?

Karena pada akhirnya,
kebenaran yang disampaikan dengan cara baik
akan lebih dekat untuk diterima—dan diamalkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT

Bismillah. Sahabat, marilah sejenak mengingat-ingat segala hal yang telah kita lakukan hari ini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kita semua tahu, waktu yang telah berlalu tak akan mungkin bisa kembali. Tak mungkin bisa berulang. Dan apapun yang telah kita lakukan, semua pasti diawasi oleh-Nya. Tiada lekang oleh penilaian-Nya, dan semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Lalu, hal apakah yang telah kita perbuat hari ini? Apakah hal yang penuh kebermanfaatan ataukah sebaliknya? Apakah di sela waktu tersebut selalu terselip nama-Nya dalam dzikir kita? Apakah telah terbaca merdu kalam-Nya pada setiap waktu yang dianugerahkan-Nya? Apakah kita telah meninggalkan hal yang tak bermanfaat untuk setiap detiknya? Marilah kita bersama bermuhasabah. Atas setiap detik waktu yang diberi. Atas setiap degup jantung yang berdetak. Atas setiap nafas yang berhembus. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. Marilah kita manfaatkan segala kesempatan yang ad...

Yuk, Kita Mulai

Telah banyak kisah teladan perihal bersedekah dan berbagi, utamanya kisah di zaman nabi dan para generasi terbaik setelahnya. Kali ini, sengaja saya memulai tulisan dengan memaparkan kisah para pendahulu kita, bukan dengan pengalaman saya ataupun orang-orang di sekitar saya. Alasannya disampaikan oleh hadits ini, “ Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”  (HR. Bukhari & Muslim). Maka, teladan terbaik ialah kisah di zaman Nabi Muhammad, kemudian generasi setelahnya. Kisah menarik datang dari seorang tabi’in, yang setiap hari pergi ke masjid di awal waktu. Setiap ia pergi ke masjid, sakunya tak pernah kosong; selalu ada isinya. Isi sakunya bisa bermacam-macam dan bisa bergonta-ganti di setiap harinya, tergantung pada barang yang ia punya. Ia pernah membawa uang, roti, maupun gandum. Bahkan suatu ketika, ia pernah membawa bawang merah di sakunya. Oleh karenanya, ia pun ditegur oleh salah satu sahabat,  “Me...