New Normal dan Pilot Project Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
Oleh: Eka Imbia Agus Diartika
Pandemi menjadi berita gembira bagi lingkungan. Di Indonesia, hal itu setidaknya terlihat pada berkurangnya produksi sampah total di sejumlah kota besar. Sejak work from home (WFH) diberlakukan, sampah di DKI Jakara turun hingga 620 ton perhari (CNN Indonesia, 2020), di Bogor turun hingga 100 ton perhari (Liputan 6, 2020), sementara di Denpasar yang normalnya 600-700 ton perhari, berkurang hingga rata-rata separuhnya (Kumparan, 2020). Penurunan utamanya terjadi pada sampah publik dan komersil.
Sayangnya, hal itu berbanding terbalik dengan meningkatnya jumlah sampah rumah tangga. Sebab, selama WFH justru terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat. Tren belanja daring meningkat antara 27-36%, berdampak pada kenaikan jumlah sampah rumah tangga. Bahkan menurut studi LIPI, sampah rumah tangga menyumbang paling banyak, yaitu 62% dari total sampah nasional, yakni sekitar 200 ribu ton per hari (Liputan 6, 2020).
Parahnya, hanya 1,2% rumah tangga yang mendaur ulang sampah. Sebagian besar rumah tangga membakar sampah yang dihasilkannya, yaitu hingga 66,8% (BPS, 2018). Efek jangka panjangnya tentu saja menimbulkan permasalahan serius pada pencemaran lingkungan akibat sampah, utamanya karena asap hasil pembakaran.
Sampah Rumah Tangga dan Circular Economy
Kemudahan dalam berbelanja dan penggunaan barang rumah tangga seringkali menjadikan kita abai pada sampah yang dihasilkannya. Banyak barang sekali pakai dan juga sampah yang langsung dibuang tanpa mengoptimalkan penggunaannya terlebih dahulu. Tentu saja, hal ini memberikan dampak negatif bagi lingkungan. Inilah yang berlaku pada ekonomi linier.
Padahal, kita dapat melihat permasalahan sampah, khususnya sampah rumah tangga melalui prinsip ekonomi sirkular (ES). ES adalah sistem industri yang memanfaatkan material yang ada untuk memproduksi barang baru atau menambah nilai barang lama melalui pengelolaan limbah yang terintegrasi. ES seringkali disebut sebagai jalan untuk keberlanjutan masa depan dan menjadi solusi inovatif dalam penyelesaian masalah sampah. Beberapa negara mulai menerapkan model ekonomi ini karena dianggap mudah dicontoh serta dapat dilakukan oleh semua orang.
Dalam siklus ES, sampah justru menjadi sebuah potensi. ES akan memutar kembali barang yang telah habis manfaatnya untuk dapat dimanfaatkan sebagai produk baru. Sehingga, bahan baku yang diambil dari alam akan terus berputar dalam lingkaran produksi, konsumi, dan daur ulang, dan tidak akan berakhir di lingkungan sebagai sampah. Contohlah Denmark. Berbagai kebijakan diambil oleh Denmark untuk mendorong masyarakat dalam daur ulang sampah plastik melalui sistem deposit untuk minuman. Membeli produk minuman, berarti pula membayar deposit. Uang deposit ini akan kembali jika botol minuman juga dikembalikan.
Hal ini dapat diberlakukan pula pada sampah rumah tangga. Melalui pemahaman dan implementasi model ES, sampah rumah tangga sudah seharusnya dapat terkelola dengan baik dan sebisa mungkin tidak menghasilkan sampah yang mencemari lingkungan atau hanya menumpuk di landfill. Promosi reuse dan repair cocok diterapkan. Demikian pula usaha untuk mereduksi jumlah sampah makanan serta mengoptimalkan recycling dan rehabilitasi TPA juga hal penting yang dapat dilakukan untuk keberhasilan implementasi ES.
Pilot Project Manajemen Sampah di Era New Normal
Dalam pelaksanaan ES, tentu saja melibatkan 2 pihak utama, yaitu pihak produsen dan konsumen. Pihak produsen yaitu industri, beberapa mulai menerapkan ES. Sebagai contohnya yaitu menyediakan galon yang bisa dikembalikan ke pabrik untuk diisi ulang. Demikian pula botol dan gelas plastik sekali pakai juga bisa dikembalikan ke pabrik untuk didaur ulang.
Ditinjau dari pihak konsumen, tentuk saja pihak rumah tangga memiliki peran yang sangat besar. Pilot project yang difokuskan pada pengelolaan sampah rumah tangga di era new normal saya rasa menjadi hal mendesak untuk segera diwujudkan. Jika tidak, semakin meningkatnya produksi sampah rumah tangga di era pandemi ini akan menyumbang permasalahan lain, khususnya terkait lingkungan.
Untuk membentuk pilot project ini, tentu saja, harus mengonsep pengelolaan sampah yang paling sesuai untuk di terapkan dalam skala rumah tangga. Pengelolaan yang tepat dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, khususnya untuk pemulihan dan pemanfaatan energi.
Pilot project yang dimaksud adalah dengan memaksimalkan pengelolaan sampah rumah tangga, dimulai dengan menentukan beberapa rumah yang dapat dijadikan contoh. Beberapa rumah yang dijadikan pilot project tersebut selalu dimonitoring dan melaporkan kegiatan dalam pengelolaan sampah secara rutin.
Langkah implementasi yang dapat diterapkan melalui pilot project dapat dimulai dengan mengurangi jumlah produksi sampah yang dihasilkan rumah tangga. Contohnya, menggunakan tas kain ketika berbelanja untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Demikian pula untuk sampah organik, sebaiknya mengurangi pembelian bahan makanan organik yang berlebihan, sehingga menghasilkan sampah sisa dapur. Tak hanya itu. Dapat pula menggunakan ulang barang rumah tangga, seperti memilih menggunakan galon air isi ulang dibandingkan menggunakan air minum kemasan.
Selanjutnya, juga bisa dilakukan upaya daur ulang. Sampah plastik, sampah kertas, dan juga logam yang menumpuk bisa diputar kembali melalui bank sampah dan juga TPS 3R. Disini dibutuhkan sikap proaktif untuk menyetorkan jumlah sampah, yang kemudian bisa ditukar dalam bentuk uang tabungan. Cara lain untuk daur ulang sampah plastik yaitu dengan mengelolanya menjadi beragam kerajinan dan juga mengumpulkan sampah plastik untuk dibentuk Ecobrick.
Hal penting yang tak boleh terlewatkan adalah pengelolaan sampah organik. Sampah organik ini bisa dimanfaatkan ulang menjadi kompos dengan pengelolaan yang cukup mudah. Kompos kemudian digunakan untuk menanam, sehingga akan termanfaatkan kembali.
Beberapa tawaran upaya di atas dapat dimulai dari beberapa rumah yang menjadi pilot project. Pelaksanaan pilot project dapat dimulai dari rumah kita masing-masing, yang sudah seyogianya menjadi inisiator untuk peduli lingkungan. Pilot project ini sebisa mungkin bisa dilaksanakan dengan maksimal supaya benar-benar bisa menjadi patron. Harapannya, nanti tidak hanya terbatas pada beberapa rumah yang dijadikan titik, namun juga dapat dilaksanakan dalam skala besar, yaitu keseluruhan warga Indonesia.
Melalui usaha pengelolaan sampah secara berkelanjutan yang dimulai dari rumah tangga ini, harapannya jumlah sampah terus menurun di era new normal dan seterusnya. Lebih jauh, dapat mewujudkan harapan Indonesia pada tahun 2025, yaitu bisa mengurangi 30% sampah plastik serta menangani 70% sampah lain melalui gerakan 3R (reduce, reuse, recycle).
Komentar
Posting Komentar