Langsung ke konten utama

Pintar Saja Tidak Cukup

Kadang kita terbiasa menilai dari yang terlihat.

Siapa yang paling cepat.
Siapa yang paling pintar.
Siapa yang paling menonjol.

Dan seringnya, itu yang dianggap “cukup”.

Ada satu kisah sederhana.

Tentang seseorang yang dikenal cerdas. Jalannya terlihat lancar, pencapaiannya baik, dan banyak harapan yang disandarkan padanya.

Semua seperti berjalan sebagaimana mestinya.

Sampai di satu momen, ada sikap yang kurang tepat dalam menyampaikan sesuatu. Mungkin terasa biasa saja saat itu, tidak dianggap masalah besar.

Tapi ternyata, hal kecil itu membawa dampak.

Perlahan, kepercayaan berubah.
Bukan karena kemampuannya berkurang, tapi karena cara bersikapnya mulai dipertanyakan.

Dan di titik itu, terasa… tidak semua hal bisa kembali seperti semula.

Dari situ jadi terasa, bahwa pintar saja memang tidak cukup.

Kepintaran bisa membuat langkah jadi cepat.
Tapi adab yang membuat langkah itu tetap terarah.

Sering kali kita terlalu sibuk mengejar hasil.

Nilai yang baik.
Pencapaian yang terlihat.
Pengakuan dari orang lain.

Sampai lupa, ada hal yang lebih tenang tapi justru lebih menentukan—cara kita bersikap.

Cara berbicara.
Cara menempatkan diri.
Cara menghargai orang lain.

Karena pada akhirnya,

ilmu bisa membuat seseorang terlihat tinggi,
tapi adab yang membuatnya tetap dihargai.

Dan mungkin, itu yang sering terlewat—
bahwa dalam perjalanan belajar, yang dijaga bukan hanya apa yang kita pelajari,
tapi juga bagaimana kita membawa diri sepanjang perjalanan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita MengASI-hi

Halo mom. Rasanya banyak sekali nih ceritaku tentang peran baruku sebagai ibu hehe. Malah peran baru sebagai istri belum pernah kutulis ya di blog ini. Semoga nanti sempat nulis deh. Yap, aku nulis ini sekaligus healing ya mom. Pas anak lagi tidur aku nyempetin nulis biar ada cerita yang bisa dikenang tentang lika liku membesarkan buah hatiku 🥰 Kali ini aku mau cerita tentang drama mengASI-hi ya mom. Mungkin bagi mom sekalian ini hal yang mudah, tapi bagiku ini perlu kesabaran ekstra di awal² menyusui  hehe 😆 Dan saya yakin setiap ibu pasti punya cerita perjuangannya masing². Awal cerita, Arya tidak bisa direct breast feeding (DBF) alias nenen langsung. Jadi di awal² kelahiran Arya dulu, Arya sering pakai dot sebagai media memberikan susu. Usai lahiran, ASI ku belum keluar, jadi waktu di rumah sakit Arya diberikan susu formula dulu. Ya, meskipun katanya bayi bisa bertahan sampai sekitar 3 hari sambil nunggu ASI, tapi banyak juga pengalaman yang bayinya kuning dan harus disinar ka...

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...