Ada kalanya seseorang tidak merasa sedang bersaing dengan siapa pun, tidak merasa menyakiti siapa pun, bahkan tidak sedang mencari perhatian. Namun entah mengapa, keberadaannya tetap terasa tidak cukup bagi sebagian orang.
Bukan tentang dibenci secara terang-terangan. Kadang bentuknya lebih halus dari itu. Tidak diajak bicara saat pendapat dibutuhkan. Tidak disebut meski ikut berkontribusi. Tidak benar-benar didengar kecuali mengikuti arah yang diinginkan orang lain. Perlahan, seseorang bisa merasa hadir tanpa benar-benar dianggap ada.
Yang paling melelahkan sering kali bukan pertengkaran besar, melainkan kebiasaan kecil yang terus berulang. Ketika seseorang diharapkan selalu mengerti, selalu menyesuaikan diri, selalu mengikuti ritme orang lain, sementara keinginannya sendiri dianggap terlalu banyak atau tidak penting.
Akhirnya banyak orang memilih diam. Bukan karena tidak punya pendapat, tetapi karena merasa percuma menjelaskan. Ada titik ketika seseorang lelah memperjuangkan tempat di lingkungan yang seharusnya bisa membuatnya merasa diterima.
Padahal setiap orang ingin dihargai dengan cara sederhana: didengarkan tanpa harus memaksa, diingat tanpa harus menonjolkan diri, dan diberi ruang tanpa harus berubah menjadi orang lain terlebih dahulu.
Tidak semua luka datang dari kata-kata kasar. Sebagian hadir dari perasaan terus-menerus diabaikan. Dari kesan bahwa keberadaan seseorang hanya diterima selama ia mengikuti kemauan orang lain.
Dan mungkin, banyak orang sedang menjalani hal yang sama tanpa pernah benar-benar menceritakannya.
Komentar
Posting Komentar