Ada saat-saat tertentu ketika seseorang mulai diam-diam mempertanyakan dirinya sendiri.
Bukan karena melakukan kesalahan besar. Bukan juga karena pernah berniat menyakiti siapa pun. Namun setelah terlalu sering merasa diabaikan, tidak didengar, atau dianggap biasa saja, perlahan muncul pertanyaan yang sulit ditepis: apakah memang seburuk itu?
Awalnya mungkin hanya hal kecil. Pendapat yang jarang dianggap penting. Kehadiran yang mudah terlewatkan. Usaha yang dianggap biasa. Lama-kelamaan, semuanya menumpuk menjadi perasaan yang tidak mudah dijelaskan.
Yang paling melelahkan sering kali bukan perlakuan kasar, melainkan perasaan terus-menerus tidak benar-benar dianggap ada.
Akhirnya banyak orang mulai mengecilkan dirinya sendiri. Menahan pendapat, mengurangi harapan, dan berhenti banyak bicara karena merasa percuma jika pada akhirnya tetap tidak dipahami.
Padahal, belum tentu ada yang salah dengan dirinya.
Kadang seseorang hanya terlalu lama berada di tempat yang tidak mampu memberi ruang yang hangat bagi keberadaannya. Tempat yang terbiasa menerima pengertian tanpa pernah benar-benar belajar memahami.
Dan dari situlah keraguan mulai tumbuh. Bukan karena benar-benar buruk, melainkan karena terlalu lama merasa tidak cukup bagi orang lain.
Padahal tidak semua hal harus diukur dari bagaimana seseorang diperlakukan.
Sebab ada orang-orang baik yang perlahan kehilangan percaya diri hanya karena terlalu sering merasa tidak dianggap.
Komentar
Posting Komentar