Dia yang Menggerakkan
Akhir-akhir ini rasanya hati seperti sedang diarahkan.
Di saat-saat yang tidak direncanakan, bahkan ketika tidur terlalu larut, justru terbangun di waktu yang terasa begitu tenang. Bukan karena alarm, bukan karena kebiasaan, tapi seperti ada yang membangunkan dengan cara yang halus. Di momen itu, suasananya berbeda—lebih hening, lebih dekat, lebih terasa.
Pelan-pelan, aku mulai menyadari ada perubahan kecil dalam diri. Seperti ada dorongan untuk kembali, untuk lebih mendekat. Bukan karena tuntutan, tapi karena hati yang memang ingin.
Mulai membangun lagi hubungan dengan Allah, dengan cara yang sederhana. Menyempatkan waktu walau sebentar, berusaha hadir walau belum sempurna. Kembali membuka Al-Qur’an, meskipun hanya beberapa ayat. Tidak banyak, tapi terasa cukup.
Dan justru dari yang sedikit itu, ada rasa yang berbeda. Lebih tenang, lebih ringan.
Tidak ada perubahan yang besar secara langsung. Hidup tetap berjalan seperti biasa, dengan segala kesibukan dan hal-hal yang perlu dihadapi. Tapi di dalamnya, ada ruang yang terasa lebih lapang.
Seolah-olah hati sedang dituntun perlahan. Didekatkan tanpa terasa dipaksa. Diberi kesempatan untuk kembali, sedikit demi sedikit.
Aku jadi belajar, mungkin hidayah itu memang tidak selalu datang dalam bentuk yang besar. Kadang justru hadir lewat hal-hal kecil—dari bangun di waktu yang tepat, dari keinginan untuk kembali, dari langkah sederhana yang terasa lebih berarti.
Dan di tengah itu, aku juga mulai mengingat satu doa yang terasa sangat dekat:
“Yaa Muqollibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinik.”
(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.)
Karena pada akhirnya, yang kita jaga bukan hanya langkah, tapi juga hati.
Dan di titik ini, rasanya cukup disyukuri.
Pelan-pelan, tapi terasa nyata.
Komentar
Posting Komentar