Langsung ke konten utama

Dia yang Menggerakkan

Akhir-akhir ini rasanya hati seperti sedang diarahkan.

Di saat-saat yang tidak direncanakan, bahkan ketika tidur terlalu larut, justru terbangun di waktu yang terasa begitu tenang. Bukan karena alarm, bukan karena kebiasaan, tapi seperti ada yang membangunkan dengan cara yang halus. Di momen itu, suasananya berbeda—lebih hening, lebih dekat, lebih terasa.

Pelan-pelan, aku mulai menyadari ada perubahan kecil dalam diri. Seperti ada dorongan untuk kembali, untuk lebih mendekat. Bukan karena tuntutan, tapi karena hati yang memang ingin.

Mulai membangun lagi hubungan dengan Allah, dengan cara yang sederhana. Menyempatkan waktu walau sebentar, berusaha hadir walau belum sempurna. Kembali membuka Al-Qur’an, meskipun hanya beberapa ayat. Tidak banyak, tapi terasa cukup.

Dan justru dari yang sedikit itu, ada rasa yang berbeda. Lebih tenang, lebih ringan.

Tidak ada perubahan yang besar secara langsung. Hidup tetap berjalan seperti biasa, dengan segala kesibukan dan hal-hal yang perlu dihadapi. Tapi di dalamnya, ada ruang yang terasa lebih lapang.

Seolah-olah hati sedang dituntun perlahan. Didekatkan tanpa terasa dipaksa. Diberi kesempatan untuk kembali, sedikit demi sedikit.

Aku jadi belajar, mungkin hidayah itu memang tidak selalu datang dalam bentuk yang besar. Kadang justru hadir lewat hal-hal kecil—dari bangun di waktu yang tepat, dari keinginan untuk kembali, dari langkah sederhana yang terasa lebih berarti.

Dan di tengah itu, aku juga mulai mengingat satu doa yang terasa sangat dekat:

“Yaa Muqollibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinik.”
(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.)

Karena pada akhirnya, yang kita jaga bukan hanya langkah, tapi juga hati.

Dan di titik ini, rasanya cukup disyukuri.

Pelan-pelan, tapi terasa nyata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita MengASI-hi

Halo mom. Rasanya banyak sekali nih ceritaku tentang peran baruku sebagai ibu hehe. Malah peran baru sebagai istri belum pernah kutulis ya di blog ini. Semoga nanti sempat nulis deh. Yap, aku nulis ini sekaligus healing ya mom. Pas anak lagi tidur aku nyempetin nulis biar ada cerita yang bisa dikenang tentang lika liku membesarkan buah hatiku 🥰 Kali ini aku mau cerita tentang drama mengASI-hi ya mom. Mungkin bagi mom sekalian ini hal yang mudah, tapi bagiku ini perlu kesabaran ekstra di awal² menyusui  hehe 😆 Dan saya yakin setiap ibu pasti punya cerita perjuangannya masing². Awal cerita, Arya tidak bisa direct breast feeding (DBF) alias nenen langsung. Jadi di awal² kelahiran Arya dulu, Arya sering pakai dot sebagai media memberikan susu. Usai lahiran, ASI ku belum keluar, jadi waktu di rumah sakit Arya diberikan susu formula dulu. Ya, meskipun katanya bayi bisa bertahan sampai sekitar 3 hari sambil nunggu ASI, tapi banyak juga pengalaman yang bayinya kuning dan harus disinar ka...

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...