Langsung ke konten utama

Tidak Semua Harus Sesuai Harapan

Kadang ada momen kecil yang terasa mengganggu—ketika respon yang kita harapkan tidak datang seperti yang kita bayangkan.

Niatnya ingin bersikap hangat, ingin menyapa, ingin memberi. Tapi yang diterima justru sebaliknya. Ada yang terasa dingin, ada yang tidak tersambut, ada juga yang seperti tidak dihargai. Di situ, wajar kalau muncul rasa kesal, meski hanya sebentar.

Tapi pelan-pelan jadi belajar, tidak semua hal harus berjalan sesuai harapan kita.

Setiap orang punya cara, punya keadaan, dan punya perasaan yang tidak selalu terlihat. Apa yang tampak di luar belum tentu mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam. Dan tidak semua hal berkaitan dengan kita.

Di titik itu, rasanya lebih tenang ketika mengingat bahwa kita tidak bisa mengatur respon orang lain. Yang bisa kita jaga hanyalah niat dan sikap kita sendiri.

Kalau sudah berusaha bersikap baik, menyampaikan dengan tulus, itu sudah cukup. Tidak harus selalu dibalas dengan cara yang sama.

Kadang memang perlu belajar untuk tidak mengambil semuanya secara pribadi. Tidak semua penolakan adalah penolakan. Tidak semua sikap dingin adalah tentang kita.

Dan saat bisa melihatnya seperti itu, hati jadi lebih ringan.

Karena pada akhirnya, yang penting bukan bagaimana orang merespon, tapi bagaimana kita tetap menjaga niat baik itu tetap utuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT

Bismillah. Sahabat, marilah sejenak mengingat-ingat segala hal yang telah kita lakukan hari ini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kita semua tahu, waktu yang telah berlalu tak akan mungkin bisa kembali. Tak mungkin bisa berulang. Dan apapun yang telah kita lakukan, semua pasti diawasi oleh-Nya. Tiada lekang oleh penilaian-Nya, dan semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Lalu, hal apakah yang telah kita perbuat hari ini? Apakah hal yang penuh kebermanfaatan ataukah sebaliknya? Apakah di sela waktu tersebut selalu terselip nama-Nya dalam dzikir kita? Apakah telah terbaca merdu kalam-Nya pada setiap waktu yang dianugerahkan-Nya? Apakah kita telah meninggalkan hal yang tak bermanfaat untuk setiap detiknya? Marilah kita bersama bermuhasabah. Atas setiap detik waktu yang diberi. Atas setiap degup jantung yang berdetak. Atas setiap nafas yang berhembus. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. Marilah kita manfaatkan segala kesempatan yang ad...

Yuk, Kita Mulai

Telah banyak kisah teladan perihal bersedekah dan berbagi, utamanya kisah di zaman nabi dan para generasi terbaik setelahnya. Kali ini, sengaja saya memulai tulisan dengan memaparkan kisah para pendahulu kita, bukan dengan pengalaman saya ataupun orang-orang di sekitar saya. Alasannya disampaikan oleh hadits ini, “ Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”  (HR. Bukhari & Muslim). Maka, teladan terbaik ialah kisah di zaman Nabi Muhammad, kemudian generasi setelahnya. Kisah menarik datang dari seorang tabi’in, yang setiap hari pergi ke masjid di awal waktu. Setiap ia pergi ke masjid, sakunya tak pernah kosong; selalu ada isinya. Isi sakunya bisa bermacam-macam dan bisa bergonta-ganti di setiap harinya, tergantung pada barang yang ia punya. Ia pernah membawa uang, roti, maupun gandum. Bahkan suatu ketika, ia pernah membawa bawang merah di sakunya. Oleh karenanya, ia pun ditegur oleh salah satu sahabat,  “Me...