Langsung ke konten utama

Anaknya Kok Nggak Didulukan?—Cerita Kecil yang Membekas

Waktu itu, aku diajak suami buka puasa di rumah keluarga.

Setelah azan, aku mengambil makanan secukupnya untuk berbuka. Tiba-tiba ada yang berkomentar,
“Loh, kok makannya duluan? Anaknya nggak didulukan?”

Aku sempat diam sebentar.

Dalam hatiku langsung menjawab,
Ini cuma buka puasa. Aku juga cuma ambil sedikit. Nanti juga anakku aku siapkan…

Tapi ternyata tidak berhenti di situ.

Komentarnya berlanjut,
“Kasihan, itu anaknya kurus… harusnya didulukan, orang tuanya gendut. Orang tuanya malah makan duluan.”

Jujur, di momen itu aku kesal.

Bukan sekadar karena dikomentari dan body shaming,
tapi karena yang dibawa-bawa adalah anakku.
Seolah-olah aku tidak memperhatikan,
seolah-olah aku tidak tahu bagaimana merawat anakku sendiri.

Padahal, tidak semua yang terlihat dalam satu momen bisa menggambarkan keseluruhan.

Aku tahu bagaimana keseharian anakku.
Aku tahu bagaimana aku dan suami berusaha memberikan yang terbaik.
Dan aku juga tahu satu kejadian kecil itu tidak bisa menjadi ukuran.

Tapi tetap saja…
Kata-kata itu masih membekas hingga sekarang.

Bahkan sebelumnya dia juga sempat menyeletuk,
“Buat apa kerja kalau anak nggak keurus?”


Dari situ aku belajar sesuatu.

Tidak semua omongan orang perlu kita simpan.
Karena kalau semua didengar,
kadang justru membuat hati kita sendiri yang lelah.

Ada waktunya kita cukup diam.
Ada waktunya kita tidak perlu menjelaskan.
Dan ada waktunya kita belajar untuk tidak terlalu memikirkan.

Bukan karena tidak peduli,
tapi karena kita sedang menjaga hati kita sendiri.

Karena pada akhirnya,
kita yang paling tahu bagaimana kita menjalani peran kita.

Sebagai ibu, sebagai istri,
dan sebagai manusia yang juga masih terus belajar.

Dan mungkin, yang terpenting…
Tetap berusaha berbuat baik,
meskipun tidak selalu dipahami.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita MengASI-hi

Halo mom. Rasanya banyak sekali nih ceritaku tentang peran baruku sebagai ibu hehe. Malah peran baru sebagai istri belum pernah kutulis ya di blog ini. Semoga nanti sempat nulis deh. Yap, aku nulis ini sekaligus healing ya mom. Pas anak lagi tidur aku nyempetin nulis biar ada cerita yang bisa dikenang tentang lika liku membesarkan buah hatiku 🥰 Kali ini aku mau cerita tentang drama mengASI-hi ya mom. Mungkin bagi mom sekalian ini hal yang mudah, tapi bagiku ini perlu kesabaran ekstra di awal² menyusui  hehe 😆 Dan saya yakin setiap ibu pasti punya cerita perjuangannya masing². Awal cerita, Arya tidak bisa direct breast feeding (DBF) alias nenen langsung. Jadi di awal² kelahiran Arya dulu, Arya sering pakai dot sebagai media memberikan susu. Usai lahiran, ASI ku belum keluar, jadi waktu di rumah sakit Arya diberikan susu formula dulu. Ya, meskipun katanya bayi bisa bertahan sampai sekitar 3 hari sambil nunggu ASI, tapi banyak juga pengalaman yang bayinya kuning dan harus disinar ka...

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...