Kuliah Terus Buat Apa?—Pertanyaan yang Menguatkanku

Halo, aku Eka. Seorang ibu dengan satu anak, yang saat ini Alhamdulillah Allah beri kesempatan untuk melanjutkan studi S3 Pendidikan Biologi.

Keputusan ini bukan sesuatu yang mudah. Kalau mengingat masa S1 dan S2 dulu, rasanya sangat berbeda. Dulu, saat aku masih single. Mau ikut kegiatan apa pun, pergi ke mana pun, rasanya lebih bebas. Tidak banyak yang perlu dipikirkan.

Sekarang, banyak yang berubah.
Setiap langkah bukan lagi tentang aku saja, tapi juga tentang suami dan anak.

Ada satu momen yang sampai sekarang masih aku ingat.

Waktu itu, aku sedang bersilaturahmi ke salah satu keluarga. Obrolannya ringan, seperti biasa, sampai akhirnya muncul pertanyaan,
“Sekarang kesibukannya apa?”

Aku menjawab sederhana,
“Aku mau kuliah lagi.”

Respons berikutnya… jujur, cukup membuatku diam.
“Loh, kuliah terus buat apa? Kapan kerjanya?”

Aku tidak menjelaskan panjang lebar saat itu.
Bukan karena tidak bisa, tapi karena rasanya tidak semua hal harus dijelaskan.

Dalam hati, aku hanya mencoba menenangkan diri. Bahwa apa yang aku jalani ini bukan tanpa tujuan. Belajar juga bagian dari ikhtiar bekerja.

Alhamdulillah, Allah memberi jalan melalui Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) 2024 skema dosen PTA. Sebuah kesempatan yang sangat aku syukuri. Bukan hanya tentang melanjutkan pendidikan, tapi tentang kepercayaan untuk terus belajar dan bertumbuh.

Aku sadar, mungkin tidak semua orang akan memahami pilihan ini.
Ada yang melihatnya sebagai sesuatu yang “terlalu lama”; ada yang menganggap seharusnya fokus bekerja saja.

Tapi aku juga belajar bahwa setiap orang punya jalan dan waktunya masing-masing.

Dan ini adalah jalanku.


Pelajaran yang Aku Dapat

Dari perjalanan ini, aku belajar satu hal sederhana: tidak semua orang harus mengerti kita.

Kadang, yang kita butuhkan bukan pengakuan, tapi keyakinan dalam diri sendiri. Pertanyaan seperti itu pada akhirnya yang menguatkanku.

Aku juga belajar bahwa menjadi ibu bukan akhir dari mimpi. Justru di peran ini, aku belajar tentang sabar, tentang bertahan, dan tentang tetap melangkah meski pelan.


Harapan ke Depan

Aku tidak berharap semua orang akan setuju dengan pilihanku.

Tapi aku berharap apa yang aku jalani hari ini bisa membawa kebaikan.
Untuk keluargaku, untuk mahasiswa yang nanti aku ajar, dan untuk lingkungan sekitarku.

Semoga langkah ini bukan hanya tentang gelar,
tapi tentang bagaimana ilmu bisa menjadi manfaat,
dan semoga semua ini bisa menjadi bagian dari amal jariyah.

Dan yang paling penting, semoga aku tetap bisa menjalaninya dengan hati yang tenang—sebagai ibu, sebagai istri, dan sebagai seorang pembelajar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

Mengapa Anak Perlu Belajar dari Alam Sekitar?

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT