Kadang, Diam Adalah Cara Menjaga Diri
Ada satu fase dalam hidup di mana kita mulai belajar…
Tidak semua omongan orang harus kita dengarkan.
Bukan karena kita sombong,
bukan juga karena kita merasa paling benar.
Tapi karena kita mulai paham,
tidak semua kata membawa kebaikan.
Kadang, justru kata-kata itulah yang paling lama tinggal di hati.
Yang awalnya hanya lewat di telinga,
tapi kemudian berputar-putar di pikiran,
dan perlahan melukai tanpa kita sadari.
Dulu, aku termasuk orang yang cukup “mendengarkan semua”.
Takut tidak enak, takut dianggap tidak sopan,
takut kalau menolak nanti dinilai macam-macam.
Tapi ternyata, terlalu banyak mendengar juga bisa melelahkan.
Ada masa di mana kita perlu belajar menjaga diri.
Belajar memilah—mana yang perlu didengar,
mana yang cukup dilewatkan saja.
Tidak apa-apa kalau sesekali kita menolak.
Tidak apa-apa kalau kita memilih diam saat dikomentari.
Tidak semua hal harus dijelaskan,
tidak semua penilaian harus diluruskan.
Dan yang lebih penting,
tidak perlu takut pada komentar orang.
Karena pada akhirnya,
kita tidak hidup dari penilaian mereka.
Kita hanya sedang berusaha menjalani peran kita sebaik mungkin—
Sebagai ibu, sebagai istri, sebagai diri kita sendiri.
Selama kita masih berusaha berbuat baik,
meskipun kecil, meskipun sederhana,
Itu sudah cukup.
Tidak harus selalu terlihat hebat di mata orang,
Tidak harus selalu dipahami semua orang.
Karena hidup ini bukan tentang membuat semua orang setuju,
Tapi tentang tetap berjalan dengan hati yang tenang.
Pelan-pelan, aku belajar…
Bahwa menjaga hati sendiri juga bagian dari kebaikan.
Dan mungkin,
tidak semua yang kita diamkan adalah kelemahan.
Kadang, itu justru bentuk kekuatan.
Komentar
Posting Komentar