Langsung ke konten utama

Yang Penting Itu Akhlak

Kadang kita terlalu sibuk mengejar label: jabatan apa yang kita punya, pencapaian apa yang sudah kita raih, bahkan seberapa banyak ibadah yang kita lakukan. Kita merasa semua itu akan membuat orang lain menghargai kita. Padahal, realitanya tidak selalu begitu.

Orang mungkin tidak benar-benar peduli kamu lulusan mana, sudah jadi apa, atau punya gelar apa di belakang nama. Bahkan, tidak semua orang melihat seberapa sering kamu hadir di majelis, seberapa panjang doa yang kamu panjatkan, atau seberapa banyak amalan yang kamu kumpulkan.

Yang mereka rasakan justru hal yang paling sederhana: bagaimana sikapmu kepada mereka.

Apakah kamu berkata dengan lembut atau justru menyakitkan.
Apakah kamu jujur atau sering memanipulasi.
Apakah kamu peduli atau hanya mementingkan diri sendiri.

Pada akhirnya, yang tinggal di ingatan orang bukan identitas kita, tapi akhlak kita.

Dalam Islam, ini bukan hal kecil. Bahkan, Rasulullah ﷺ menegaskan:

"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi)

Hadits ini seperti mengingatkan kita bahwa ukuran “dekat” dengan Rasulullah bukan soal jabatan, bukan juga sekadar banyaknya ibadah secara kuantitas, tapi kualitas akhlak.

Karena ibadah seharusnya melahirkan akhlak.

Kalau seseorang rajin shalat tapi masih suka merendahkan orang lain, mungkin ada yang perlu diperbaiki. Kalau seseorang aktif dalam kegiatan keagamaan tapi masih menyakiti orang di sekitarnya, mungkin yang perlu ditata bukan hanya rutinitasnya, tapi hatinya.

Akhlak itu terasa, bukan dipamerkan.
Ia muncul dalam hal-hal kecil: cara kita membalas chat, cara kita menghadapi orang yang tidak sependapat, cara kita bersikap saat tidak diuntungkan.

Dan yang menarik, akhlak baik itu tidak pernah sia-sia. Mungkin tidak semua orang memuji, tapi banyak yang diam-diam merasa nyaman. Mungkin tidak semua orang mengakui, tapi banyak yang diam-diam menghormati.

Jadi, kalau hari ini kita lelah mengejar pengakuan, mungkin kita bisa berhenti sejenak. Bukan berarti berhenti berprestasi atau beribadah, tapi meluruskan kembali niat dan arah.

Bahwa semua itu seharusnya bermuara pada satu hal: menjadi manusia yang lebih baik dalam bersikap.

Karena pada akhirnya, yang paling lama diingat bukan apa yang kita capai, tapi bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT

Bismillah. Sahabat, marilah sejenak mengingat-ingat segala hal yang telah kita lakukan hari ini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kita semua tahu, waktu yang telah berlalu tak akan mungkin bisa kembali. Tak mungkin bisa berulang. Dan apapun yang telah kita lakukan, semua pasti diawasi oleh-Nya. Tiada lekang oleh penilaian-Nya, dan semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Lalu, hal apakah yang telah kita perbuat hari ini? Apakah hal yang penuh kebermanfaatan ataukah sebaliknya? Apakah di sela waktu tersebut selalu terselip nama-Nya dalam dzikir kita? Apakah telah terbaca merdu kalam-Nya pada setiap waktu yang dianugerahkan-Nya? Apakah kita telah meninggalkan hal yang tak bermanfaat untuk setiap detiknya? Marilah kita bersama bermuhasabah. Atas setiap detik waktu yang diberi. Atas setiap degup jantung yang berdetak. Atas setiap nafas yang berhembus. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. Marilah kita manfaatkan segala kesempatan yang ad...

Yuk, Kita Mulai

Telah banyak kisah teladan perihal bersedekah dan berbagi, utamanya kisah di zaman nabi dan para generasi terbaik setelahnya. Kali ini, sengaja saya memulai tulisan dengan memaparkan kisah para pendahulu kita, bukan dengan pengalaman saya ataupun orang-orang di sekitar saya. Alasannya disampaikan oleh hadits ini, “ Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”  (HR. Bukhari & Muslim). Maka, teladan terbaik ialah kisah di zaman Nabi Muhammad, kemudian generasi setelahnya. Kisah menarik datang dari seorang tabi’in, yang setiap hari pergi ke masjid di awal waktu. Setiap ia pergi ke masjid, sakunya tak pernah kosong; selalu ada isinya. Isi sakunya bisa bermacam-macam dan bisa bergonta-ganti di setiap harinya, tergantung pada barang yang ia punya. Ia pernah membawa uang, roti, maupun gandum. Bahkan suatu ketika, ia pernah membawa bawang merah di sakunya. Oleh karenanya, ia pun ditegur oleh salah satu sahabat,  “Me...