Sejak ada anak, rumah rasanya tidak pernah benar-benar rapi lagi.
Baru saja dibereskan, tidak lama kemudian sudah berubah.
Mainan berpindah, barang tidak lagi di tempatnya, dan semuanya terasa cepat sekali “kembali berantakan”.
Awalnya mungkin ingin semuanya tetap seperti dulu—rapi, tertata, tenang.
Tapi seiring waktu, mulai terasa… ritmenya memang sudah berbeda.
Bukan karena tidak ingin merapikan.
Bukan juga karena tidak peduli.
Hanya saja, ada hal lain yang sekarang lebih menyita perhatian.
Dan di tengah semua itu, pelan-pelan belajar memahami,
bahwa rumah yang tidak selalu rapi bukan berarti tidak terurus.
Kadang justru itu tanda bahwa rumah sedang “hidup”.
Ada aktivitas, ada proses belajar, ada momen-momen kecil yang terus terjadi setiap hari.
Akhirnya, standar pun ikut menyesuaikan.
Tidak harus selalu sempurna.
Tidak harus selalu terlihat rapi setiap saat.
Cukup dibereskan seperlunya, sebisanya.
Karena pada akhirnya, rumah bukan hanya tentang kerapian,
tapi tentang bagaimana di dalamnya tetap ada rasa nyaman, hangat, dan tempat untuk pulang.
Komentar
Posting Komentar