Langsung ke konten utama

Mulai Saja Dulu

Pernah ada di fase banyak tugas datang bersamaan, tapi malah diam saja karena bingung harus mulai dari mana?

Aku pernah.
Dan jujur, rasanya bukan karena tidak mampu. Tapi karena terlalu banyak berpikir, terlalu banyak menimbang, sampai akhirnya… tidak mulai-mulai.

Hari ini lihat daftar tugas panjang.
Besoknya masih sama.
Lusa mulai panik.

Dan akhirnya baru sadar, masalahnya bukan di banyaknya tugas. Tapi di kebiasaan menunda yang dibungkus dengan “bingung mulai dari mana”.

Padahal, sering kali kita tidak butuh rencana yang sempurna. Kita hanya butuh mulai.

Aku jadi ingat salah satu prinsip sederhana ala Jepang: “mulai dari yang kecil, tapi konsisten”.

Dalam budaya Jepang, ada konsep Kaizen, yaitu perbaikan terus-menerus dengan langkah kecil. Bukan langsung besar, bukan langsung sempurna. Tapi sedikit demi sedikit.

Kalau dipikir-pikir, ini cocok sekali untuk kondisi kita saat overwhelmed.

Daripada memikirkan semuanya sekaligus, coba:

Mulai dari tugas yang paling kecil.
Atau yang paling mudah.
Atau bahkan yang paling tidak ingin dikerjakan—yang penting satu dulu.

Tidak perlu langsung selesai semua.
Cukup bergerak.

Karena seringnya, yang berat itu bukan mengerjakan tugasnya, tapi memulai.

Tips sederhana yang bisa dicoba:

  • Pecah tugas jadi kecil-kecil
    Jangan tulis “kerjakan laporan”, tapi ubah jadi: buka file, buat judul, tulis 1 paragraf.

  • Gunakan aturan 5 menit
    Paksa diri untuk mulai hanya 5 menit. Aneh tapi nyata, seringnya setelah mulai, kita lanjut sendiri.

  • Jangan tunggu mood
    Mood itu mengikuti tindakan, bukan sebaliknya.

  • Fokus satu hal saja
    Tidak perlu multitasking. Satu selesai, baru pindah.

  • Maafkan diri yang kemarin menunda
    Daripada sibuk menyalahkan diri, lebih baik mulai hari ini.

Pelan-pelan, tapi jalan.
Sedikit-sedikit, tapi selesai.

Mungkin kita tidak bisa langsung rapi dan teratur seperti yang kita bayangkan. Tapi setidaknya, kita tidak lagi diam di tempat.

Karena ternyata, yang membuat tugas terasa berat bukan banyaknya. Tapi karena terlalu lama dibiarkan menumpuk.

Dan hari ini, kita bisa memilih untuk mulai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT

Bismillah. Sahabat, marilah sejenak mengingat-ingat segala hal yang telah kita lakukan hari ini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kita semua tahu, waktu yang telah berlalu tak akan mungkin bisa kembali. Tak mungkin bisa berulang. Dan apapun yang telah kita lakukan, semua pasti diawasi oleh-Nya. Tiada lekang oleh penilaian-Nya, dan semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Lalu, hal apakah yang telah kita perbuat hari ini? Apakah hal yang penuh kebermanfaatan ataukah sebaliknya? Apakah di sela waktu tersebut selalu terselip nama-Nya dalam dzikir kita? Apakah telah terbaca merdu kalam-Nya pada setiap waktu yang dianugerahkan-Nya? Apakah kita telah meninggalkan hal yang tak bermanfaat untuk setiap detiknya? Marilah kita bersama bermuhasabah. Atas setiap detik waktu yang diberi. Atas setiap degup jantung yang berdetak. Atas setiap nafas yang berhembus. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. Marilah kita manfaatkan segala kesempatan yang ad...

Yuk, Kita Mulai

Telah banyak kisah teladan perihal bersedekah dan berbagi, utamanya kisah di zaman nabi dan para generasi terbaik setelahnya. Kali ini, sengaja saya memulai tulisan dengan memaparkan kisah para pendahulu kita, bukan dengan pengalaman saya ataupun orang-orang di sekitar saya. Alasannya disampaikan oleh hadits ini, “ Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”  (HR. Bukhari & Muslim). Maka, teladan terbaik ialah kisah di zaman Nabi Muhammad, kemudian generasi setelahnya. Kisah menarik datang dari seorang tabi’in, yang setiap hari pergi ke masjid di awal waktu. Setiap ia pergi ke masjid, sakunya tak pernah kosong; selalu ada isinya. Isi sakunya bisa bermacam-macam dan bisa bergonta-ganti di setiap harinya, tergantung pada barang yang ia punya. Ia pernah membawa uang, roti, maupun gandum. Bahkan suatu ketika, ia pernah membawa bawang merah di sakunya. Oleh karenanya, ia pun ditegur oleh salah satu sahabat,  “Me...