Langsung ke konten utama

Menjaga Jarak, Bukan Berarti Membenci

Kadang dalam hidup, ada orang yang dulu terasa sangat dekat, tapi perlahan tidak lagi seintens dulu.

Bukan karena ada masalah besar.
Bukan juga karena pernah bertengkar.

Hanya saja, seiring waktu berjalan, arah hidup mulai berbeda.

Aktivitas berubah, lingkungan berganti, dan tanpa disadari, frekuensi komunikasi pun ikut merenggang.

Ada yang tetap dekat, tapi ada juga yang akhirnya cukup saling tahu.

Di titik tertentu, muncul perasaan yang tidak selalu mudah dijelaskan.

Bukan sesuatu yang besar, tapi cukup terasa.
Kadang hati terasa tidak selega biasanya.
Kadang butuh jeda untuk kembali menata rasa.

Bukan karena tidak senang,
tapi karena ingin tetap menjaga hati.

Akhirnya, memilih untuk menjaga jarak.

Bukan untuk memutus hubungan.
Bukan karena tidak suka.

Tapi sebagai cara untuk menjaga diri sendiri.

Dalam ajaran kita, hati adalah sesuatu yang sangat dijaga.
Apa yang sering dilihat, didengar, dan dipikirkan perlahan akan memengaruhi isi hati.

Ketika hati mulai terasa tidak nyaman, mengambil jarak bisa menjadi bentuk ikhtiar sederhana agar tetap berada dalam kondisi yang baik.

Bukan menjauh dari orangnya,
tapi menjaga agar perasaan tetap lurus.

Di era sekarang, kehidupan orang lain begitu mudah terlihat. Pencapaian, kesibukan, bahkan momen-momen terbaik sering kali hadir tanpa diminta.

Kalau tidak disikapi dengan bijak, hati bisa menjadi sempit dan mudah goyah.

Padahal, setiap orang punya jalan dan waktunya masing-masing, dan Allah sudah mengatur semuanya dengan sangat tepat.

Karena itu, memberi jeda pada diri sendiri bukanlah hal yang salah.

Justru itu bagian dari menjaga hati agar tetap tenang, tetap bersyukur, dan tetap mampu berprasangka baik.

Bukan berarti hubungan berubah menjadi buruk.
Bukan juga karena ada perasaan negatif.

Hanya sedang belajar menata hati agar tetap bersih dalam memandang orang lain.

Dan mungkin, di waktu yang lebih lapang, semuanya bisa kembali terasa ringan—tanpa beban, tanpa jarak di dalam hati.

Karena pada akhirnya, menjaga hati bukan tentang menjauh dari orang lain,

melainkan tentang menjaga diri agar tetap baik di hadapan Allah dan tetap baik dalam memperlakukan sesama. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita MengASI-hi

Halo mom. Rasanya banyak sekali nih ceritaku tentang peran baruku sebagai ibu hehe. Malah peran baru sebagai istri belum pernah kutulis ya di blog ini. Semoga nanti sempat nulis deh. Yap, aku nulis ini sekaligus healing ya mom. Pas anak lagi tidur aku nyempetin nulis biar ada cerita yang bisa dikenang tentang lika liku membesarkan buah hatiku 🥰 Kali ini aku mau cerita tentang drama mengASI-hi ya mom. Mungkin bagi mom sekalian ini hal yang mudah, tapi bagiku ini perlu kesabaran ekstra di awal² menyusui  hehe 😆 Dan saya yakin setiap ibu pasti punya cerita perjuangannya masing². Awal cerita, Arya tidak bisa direct breast feeding (DBF) alias nenen langsung. Jadi di awal² kelahiran Arya dulu, Arya sering pakai dot sebagai media memberikan susu. Usai lahiran, ASI ku belum keluar, jadi waktu di rumah sakit Arya diberikan susu formula dulu. Ya, meskipun katanya bayi bisa bertahan sampai sekitar 3 hari sambil nunggu ASI, tapi banyak juga pengalaman yang bayinya kuning dan harus disinar ka...

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...