Langsung ke konten utama

Ketika Teman Terasa Berubah

Pernah nggak sih, ngerasa ada teman yang dulu biasa aja, tapi sekarang jadi beda?

Dulu ngobrol santai. Ketemu ya nyapa, ketawa, nggak ada jarak. Semuanya terasa ringan.

Tapi lama-lama, kok berubah ya…

Jadi lebih formal.
Lebih kaku.
Kadang malah terasa seperti menjaga jarak.

Yang bikin bingung, sebenarnya nggak ada masalah apa-apa.

Hal seperti ini ternyata cukup sering terjadi.

Biasanya muncul ketika seseorang ada di lingkungan baru, punya tanggung jawab baru, atau sedang ada di fase hidup yang berbeda.

Tanpa sadar, cara bersikap ikut berubah.

Yang dulu santai, jadi lebih hati-hati.
Yang dulu terbuka, jadi lebih tertutup.

Bukan berarti jadi orang yang berbeda sepenuhnya, tapi memang ada penyesuaian.

Dari sisi orang lain, perubahan ini kadang terasa aneh.

Mau nyapa jadi mikir dulu.
Mau ngobrol jadi agak canggung.

Akhirnya, yang dulu dekat, jadi biasa saja.
Yang dulu sering komunikasi, jadi makin jarang.

Padahal kalau dipikir-pikir, nggak ada konflik.

Cuma… rasanya sudah tidak sama.

Kalau dilihat dari sisi psikologis, ini bisa jadi karena seseorang sedang menyesuaikan diri dengan peran barunya.

Ada keinginan untuk terlihat lebih profesional.
Ada batasan yang mulai dibuat.

Dan kadang, tanpa sadar, itu ikut mengubah cara berinteraksi.

Sebenarnya sederhana saja.

Naik level dalam hidup itu wajar.
Berubah juga wajar.

Tapi tetap menyapa dengan hangat, tetap jadi “manusia yang sama” di depan orang lama, itu yang kadang terlupa.

Padahal hal kecil seperti itu yang justru bikin hubungan tetap terasa nyaman.

Nggak semua hal harus kembali seperti dulu.

Ada yang memang berubah, dan itu bagian dari perjalanan hidup.

Kalau masih bisa dekat, ya dijaga.
Kalau terasa menjauh, ya tidak perlu dipaksa.

Yang penting, tetap jadi orang yang tahu caranya menghargai orang lain di situasi apapun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT

Bismillah. Sahabat, marilah sejenak mengingat-ingat segala hal yang telah kita lakukan hari ini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kita semua tahu, waktu yang telah berlalu tak akan mungkin bisa kembali. Tak mungkin bisa berulang. Dan apapun yang telah kita lakukan, semua pasti diawasi oleh-Nya. Tiada lekang oleh penilaian-Nya, dan semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Lalu, hal apakah yang telah kita perbuat hari ini? Apakah hal yang penuh kebermanfaatan ataukah sebaliknya? Apakah di sela waktu tersebut selalu terselip nama-Nya dalam dzikir kita? Apakah telah terbaca merdu kalam-Nya pada setiap waktu yang dianugerahkan-Nya? Apakah kita telah meninggalkan hal yang tak bermanfaat untuk setiap detiknya? Marilah kita bersama bermuhasabah. Atas setiap detik waktu yang diberi. Atas setiap degup jantung yang berdetak. Atas setiap nafas yang berhembus. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. Marilah kita manfaatkan segala kesempatan yang ad...

Yuk, Kita Mulai

Telah banyak kisah teladan perihal bersedekah dan berbagi, utamanya kisah di zaman nabi dan para generasi terbaik setelahnya. Kali ini, sengaja saya memulai tulisan dengan memaparkan kisah para pendahulu kita, bukan dengan pengalaman saya ataupun orang-orang di sekitar saya. Alasannya disampaikan oleh hadits ini, “ Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”  (HR. Bukhari & Muslim). Maka, teladan terbaik ialah kisah di zaman Nabi Muhammad, kemudian generasi setelahnya. Kisah menarik datang dari seorang tabi’in, yang setiap hari pergi ke masjid di awal waktu. Setiap ia pergi ke masjid, sakunya tak pernah kosong; selalu ada isinya. Isi sakunya bisa bermacam-macam dan bisa bergonta-ganti di setiap harinya, tergantung pada barang yang ia punya. Ia pernah membawa uang, roti, maupun gandum. Bahkan suatu ketika, ia pernah membawa bawang merah di sakunya. Oleh karenanya, ia pun ditegur oleh salah satu sahabat,  “Me...