Langsung ke konten utama

Ketika Merasa Tertinggal

Ada momen dalam hidup ketika kita mendengar cerita tentang orang lain yang berkembang dengan baik.

Tentang pencapaian, tentang kemajuan, tentang hal-hal yang membuat orang lain bangga.

Di satu sisi, tentu ikut senang.

Tapi di sisi lain, ada rasa kecil yang sulit dijelaskan.
Bukan sesuatu yang besar, tapi cukup membuat hati jadi lebih diam dari biasanya.

Seperti tiba-tiba ingin melihat ke dalam diri sendiri.

Bukan untuk membandingkan secara terang-terangan,
tapi lebih ke mempertanyakan pelan-pelan: sudah sampai di mana?

Perasaan seperti ini sebenarnya wajar.

Apalagi di tengah lingkungan yang terus bergerak, di mana perkembangan orang lain bisa terlihat dengan jelas.

Kadang yang terlihat adalah hasilnya,
sementara prosesnya tidak selalu tampak.

Di sinilah hati perlu dijaga.

Karena kalau tidak hati-hati, rasa yang awalnya kecil bisa berubah menjadi beban.

Padahal, setiap orang punya jalannya masing-masing.

Ada yang sedang melangkah cepat.
Ada yang berjalan pelan.
Ada juga yang sedang berhenti sejenak untuk menata arah.

Dan semuanya tetap bagian dari proses.

Dalam pandangan agama, yang dilihat bukan siapa yang paling cepat sampai,
tapi siapa yang tetap berusaha dan tetap menjaga hatinya.

Karena tidak semua proses harus terlihat,
dan tidak semua kebaikan harus segera tampak hasilnya.

Maka ketika perasaan itu datang, tidak perlu ditolak.

Cukup disadari, lalu dikembalikan pelan-pelan.

Bahwa setiap perjalanan punya waktunya sendiri.
Bahwa yang belum terlihat hari ini, bukan berarti tidak ada.

Dan bahwa nilai diri tidak ditentukan dari seberapa sering dibandingkan dengan orang lain.

Kadang, yang perlu dilakukan hanya melanjutkan langkah.

Tidak perlu terlalu jauh melihat ke depan,
tidak juga terlalu sering melihat ke samping.

Cukup fokus pada jalan sendiri, sambil tetap menjaga hati agar tetap tenang dan cukup.

Karena pada akhirnya, setiap orang akan sampai—
dengan cara dan waktunya masing-masing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT

Bismillah. Sahabat, marilah sejenak mengingat-ingat segala hal yang telah kita lakukan hari ini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kita semua tahu, waktu yang telah berlalu tak akan mungkin bisa kembali. Tak mungkin bisa berulang. Dan apapun yang telah kita lakukan, semua pasti diawasi oleh-Nya. Tiada lekang oleh penilaian-Nya, dan semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Lalu, hal apakah yang telah kita perbuat hari ini? Apakah hal yang penuh kebermanfaatan ataukah sebaliknya? Apakah di sela waktu tersebut selalu terselip nama-Nya dalam dzikir kita? Apakah telah terbaca merdu kalam-Nya pada setiap waktu yang dianugerahkan-Nya? Apakah kita telah meninggalkan hal yang tak bermanfaat untuk setiap detiknya? Marilah kita bersama bermuhasabah. Atas setiap detik waktu yang diberi. Atas setiap degup jantung yang berdetak. Atas setiap nafas yang berhembus. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. Marilah kita manfaatkan segala kesempatan yang ad...

Yuk, Kita Mulai

Telah banyak kisah teladan perihal bersedekah dan berbagi, utamanya kisah di zaman nabi dan para generasi terbaik setelahnya. Kali ini, sengaja saya memulai tulisan dengan memaparkan kisah para pendahulu kita, bukan dengan pengalaman saya ataupun orang-orang di sekitar saya. Alasannya disampaikan oleh hadits ini, “ Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”  (HR. Bukhari & Muslim). Maka, teladan terbaik ialah kisah di zaman Nabi Muhammad, kemudian generasi setelahnya. Kisah menarik datang dari seorang tabi’in, yang setiap hari pergi ke masjid di awal waktu. Setiap ia pergi ke masjid, sakunya tak pernah kosong; selalu ada isinya. Isi sakunya bisa bermacam-macam dan bisa bergonta-ganti di setiap harinya, tergantung pada barang yang ia punya. Ia pernah membawa uang, roti, maupun gandum. Bahkan suatu ketika, ia pernah membawa bawang merah di sakunya. Oleh karenanya, ia pun ditegur oleh salah satu sahabat,  “Me...