Langsung ke konten utama

Berproses (Kembali)

Memulai sesuatu yang baru, apalagi di lingkungan yang berbeda, tidak selalu mudah.

Ada fase di mana seseorang berada di lingkungan yang nyaman. Ritme hidup lebih santai, aktivitas terasa ringan, semuanya berjalan tanpa tekanan yang berarti.

Lalu perlahan, hidup berubah.

Masuk ke fase baru yang menuntut lebih banyak adaptasi. Lingkungan baru, standar baru, ritme yang lebih cepat, dan orang-orang dengan latar belakang yang terasa “lebih siap”.

Di titik ini, wajar kalau muncul rasa tidak percaya diri.

Melihat orang lain yang terlihat sudah terbiasa, lebih aktif, atau berasal dari lingkungan yang berbeda, bisa membuat diri sendiri terasa tertinggal.

Ditambah lagi, ada jeda dalam perjalanan sebelumnya. Waktu yang sempat berjalan lebih pelan, lalu tiba-tiba harus menyesuaikan dengan tempo yang jauh lebih cepat.

Rasanya seperti sedang berlari, tapi baru saja mulai.

Capeknya bukan hanya di fisik, tapi juga di pikiran.

Kadang muncul pertanyaan dalam hati:
“Bisa nggak ya mengikuti ini semua?”

Padahal, kalau dilihat lebih dalam, setiap orang datang dengan cerita yang berbeda.

Ada yang memang sudah terbiasa dengan ritme tersebut.
Ada yang jalannya lebih mulus.
Ada juga yang baru mulai beradaptasi.

Dan semuanya sama-sama sedang berproses.

Yang sering terlupa, kesempatan untuk sampai di titik ini saja sebenarnya sudah bukan hal yang kecil.

Tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama.
Tidak semua orang berani melangkah sejauh ini.

Maka mungkin, yang perlu diingat bukan siapa yang lebih cepat menyesuaikan,
tapi bagaimana tetap bertahan dan terus berjalan.

Bukan hanya hasil akhirnya, tapi juga prosesnya—lelahnya, penyesuaiannya, bahkan rasa ragu yang tetap dilalui tanpa berhenti.

Tidak apa-apa jika belum merasa sepenuhnya “nyaman”.
Tidak apa-apa jika masih butuh waktu untuk mengejar ritme.

Karena yang penting bukan terlihat langsung hebat,
tapi tetap berjalan meski pelan.

Pelan bukan berarti tertinggal.
Pelan itu tetap bergerak.

Dan mungkin, di balik semua rasa yang sekarang terasa berat,
ada proses yang sedang membentuk diri menjadi lebih kuat—dengan cara yang tidak selalu terlihat.

Jadi, tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri.

Cukup jalani, satu langkah demi satu langkah.
Karena setiap perjalanan besar, selalu dimulai dari proses penyesuaian yang tidak mudah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita MengASI-hi

Halo mom. Rasanya banyak sekali nih ceritaku tentang peran baruku sebagai ibu hehe. Malah peran baru sebagai istri belum pernah kutulis ya di blog ini. Semoga nanti sempat nulis deh. Yap, aku nulis ini sekaligus healing ya mom. Pas anak lagi tidur aku nyempetin nulis biar ada cerita yang bisa dikenang tentang lika liku membesarkan buah hatiku 🥰 Kali ini aku mau cerita tentang drama mengASI-hi ya mom. Mungkin bagi mom sekalian ini hal yang mudah, tapi bagiku ini perlu kesabaran ekstra di awal² menyusui  hehe 😆 Dan saya yakin setiap ibu pasti punya cerita perjuangannya masing². Awal cerita, Arya tidak bisa direct breast feeding (DBF) alias nenen langsung. Jadi di awal² kelahiran Arya dulu, Arya sering pakai dot sebagai media memberikan susu. Usai lahiran, ASI ku belum keluar, jadi waktu di rumah sakit Arya diberikan susu formula dulu. Ya, meskipun katanya bayi bisa bertahan sampai sekitar 3 hari sambil nunggu ASI, tapi banyak juga pengalaman yang bayinya kuning dan harus disinar ka...

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...