Langsung ke konten utama

Berbeda untuk Saling Melengkapi

Kadang kita tanpa sadar ingin semua orang jadi seperti kita.

Kalau kita tipe yang cepat, kita ingin orang lain juga sigap.
Kalau kita detail, kita berharap semua orang teliti.
Kalau kita santai, kita merasa orang lain terlalu kaku.

Padahal, dunia ini tidak pernah didesain untuk seragam.

Ada yang tegas dan cepat mengambil keputusan—sering disebut tipe koleris.
Ada yang tenang, dalam, dan penuh pertimbangan—melankolis.
Ada yang hangat, mudah bergaul, dan membawa suasana—sanguinis.
Dan ada yang damai, sabar, serta cenderung menghindari konflik—plegmatis.

Dulu aku sempat berpikir, “kenapa sih orang ini tidak bisa seperti aku saja?”
Tapi makin ke sini, justru sadar… kalau semua orang sama, mungkin hidup malah jadi tidak seimbang.

Bayangkan kalau semua orang ingin memimpin.
Atau semua orang ingin mengalah.
Atau semua orang terlalu banyak berpikir tanpa bertindak.
Atau sebaliknya, semua orang bertindak tanpa mempertimbangkan.

Tidak akan berjalan.

Justru karena kita berbeda, kita bisa saling melengkapi.

Yang cepat bisa menggerakkan.
Yang teliti bisa menjaga agar tidak salah langkah.
Yang hangat bisa menguatkan hubungan.
Yang tenang bisa meredakan keadaan.

Masalahnya sering bukan di perbedaan itu sendiri, tapi pada cara kita memandangnya.

Kita terlalu cepat menilai:
“Dia terlalu keras.”
“Dia terlalu baper.”
“Dia terlalu santai.”
“Dia terlalu banyak bicara.”

Padahal mungkin, itu hanya cara mereka berkontribusi.

Mungkin yang kita anggap “terlalu” itu, justru yang dibutuhkan di situasi tertentu.

Belajar menerima bahwa tidak semua orang harus seperti kita, itu tidak mudah. Tapi di situlah kita tumbuh.

Kita belajar menahan diri.
Belajar memahami.
Belajar melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Dan perlahan, kita sadar…
hidup ini bukan tentang siapa yang paling benar, tapi bagaimana kita bisa berjalan bersama.

Karena pada akhirnya, kita tidak butuh orang yang sama persis dengan kita.
Kita butuh orang-orang yang berbeda, agar hidup ini tetap seimbang.

Dan mungkin, di situlah letak indahnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT

Bismillah. Sahabat, marilah sejenak mengingat-ingat segala hal yang telah kita lakukan hari ini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kita semua tahu, waktu yang telah berlalu tak akan mungkin bisa kembali. Tak mungkin bisa berulang. Dan apapun yang telah kita lakukan, semua pasti diawasi oleh-Nya. Tiada lekang oleh penilaian-Nya, dan semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Lalu, hal apakah yang telah kita perbuat hari ini? Apakah hal yang penuh kebermanfaatan ataukah sebaliknya? Apakah di sela waktu tersebut selalu terselip nama-Nya dalam dzikir kita? Apakah telah terbaca merdu kalam-Nya pada setiap waktu yang dianugerahkan-Nya? Apakah kita telah meninggalkan hal yang tak bermanfaat untuk setiap detiknya? Marilah kita bersama bermuhasabah. Atas setiap detik waktu yang diberi. Atas setiap degup jantung yang berdetak. Atas setiap nafas yang berhembus. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. Marilah kita manfaatkan segala kesempatan yang ad...

Yuk, Kita Mulai

Telah banyak kisah teladan perihal bersedekah dan berbagi, utamanya kisah di zaman nabi dan para generasi terbaik setelahnya. Kali ini, sengaja saya memulai tulisan dengan memaparkan kisah para pendahulu kita, bukan dengan pengalaman saya ataupun orang-orang di sekitar saya. Alasannya disampaikan oleh hadits ini, “ Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”  (HR. Bukhari & Muslim). Maka, teladan terbaik ialah kisah di zaman Nabi Muhammad, kemudian generasi setelahnya. Kisah menarik datang dari seorang tabi’in, yang setiap hari pergi ke masjid di awal waktu. Setiap ia pergi ke masjid, sakunya tak pernah kosong; selalu ada isinya. Isi sakunya bisa bermacam-macam dan bisa bergonta-ganti di setiap harinya, tergantung pada barang yang ia punya. Ia pernah membawa uang, roti, maupun gandum. Bahkan suatu ketika, ia pernah membawa bawang merah di sakunya. Oleh karenanya, ia pun ditegur oleh salah satu sahabat,  “Me...