Langsung ke konten utama

Belajar Menjaga Kata

Kadang yang membuat seseorang lelah bukan masalah besar, tapi komentar kecil yang terus berulang.

Seperti, komentar kecil yang terdengar sepele.
Kadang berupa candaan, kadang hanya celetukan singkat yang dianggap biasa.

Bagi yang mengucapkan, mungkin itu ringan. Tidak ada maksud tertentu. Bahkan bisa jadi dianggap cara untuk mencairkan suasana.

Tapi tidak semua yang terdengar ringan, terasa ringan bagi yang menerima.

Ada kalanya kalimat seperti itu justru tinggal lebih lama di kepala. Diputar ulang, dipikirkan kembali, sampai akhirnya menimbulkan pertanyaan yang sebelumnya tidak ada. Dari yang awalnya biasa saja, perlahan berubah menjadi overthinking.

Padahal, setiap orang punya cara yang berbeda dalam menjalani sesuatu.

Ada yang perlu waktu untuk berpikir sebelum bertindak.
Ada yang lebih nyaman bergerak cepat tanpa banyak pertimbangan.
Ada yang terlihat santai, tapi sebenarnya sedang memproses dalam diam.
Ada juga yang tampak tergesa, padahal hanya ingin segera menyelesaikan.

Tidak ada yang sepenuhnya salah. Hanya berbeda.

Masalah sering muncul ketika perbedaan itu dilihat dengan satu ukuran yang sama. Seolah ada cara yang paling benar, dan yang lain menjadi terlihat berlebihan atau kurang.

Padahal, tidak semua hal perlu dikomentari.

Terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukan penilaian, tapi ruang.
Ruang untuk tetap menjadi dirinya sendiri, tanpa harus terus-menerus disesuaikan dengan standar orang lain.

Bukan berarti tidak boleh bercanda, dan bukan juga harus selalu serius. Tapi mungkin, yang perlu dijaga adalah batasnya—bahwa tidak semua hal nyaman untuk dijadikan bahan candaan.

Karena sesuatu yang terasa sepele di satu sisi, bisa terasa cukup berat di sisi lain.

Dan tanpa disadari, komentar kecil yang diulang-ulang bisa membuat seseorang mulai meragukan dirinya sendiri. Lebih banyak menahan, lebih sering berpikir dua kali, bahkan untuk hal-hal sederhana.

Padahal mungkin sebelumnya, semuanya baik-baik saja.

Maka sebelum mengatakan sesuatu, mungkin kita bisa berhenti sebentar.
Bukan untuk membatasi, tapi untuk memahami.

Apakah ini akan membuat orang lain nyaman?
Atau justru menambah beban yang tidak terlihat?

Dan bagi siapa pun yang pernah berada di posisi menerima, mungkin ada satu hal yang bisa dipelajari pelan-pelan: tidak semua yang dikatakan orang lain harus disimpan.

Ada yang cukup lewat saja.

Karena pada akhirnya, seseorang tidak harus menjadi versi yang disetujui semua orang.
Cukup menjadi versi yang dipahami, dan diterima oleh dirinya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita MengASI-hi

Halo mom. Rasanya banyak sekali nih ceritaku tentang peran baruku sebagai ibu hehe. Malah peran baru sebagai istri belum pernah kutulis ya di blog ini. Semoga nanti sempat nulis deh. Yap, aku nulis ini sekaligus healing ya mom. Pas anak lagi tidur aku nyempetin nulis biar ada cerita yang bisa dikenang tentang lika liku membesarkan buah hatiku 🥰 Kali ini aku mau cerita tentang drama mengASI-hi ya mom. Mungkin bagi mom sekalian ini hal yang mudah, tapi bagiku ini perlu kesabaran ekstra di awal² menyusui  hehe 😆 Dan saya yakin setiap ibu pasti punya cerita perjuangannya masing². Awal cerita, Arya tidak bisa direct breast feeding (DBF) alias nenen langsung. Jadi di awal² kelahiran Arya dulu, Arya sering pakai dot sebagai media memberikan susu. Usai lahiran, ASI ku belum keluar, jadi waktu di rumah sakit Arya diberikan susu formula dulu. Ya, meskipun katanya bayi bisa bertahan sampai sekitar 3 hari sambil nunggu ASI, tapi banyak juga pengalaman yang bayinya kuning dan harus disinar ka...

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...