Langsung ke konten utama

DES 2019: Part 6 (Corona, IELTS, Tesis)

Jujur saja, kasus Corona ini memberikan banyak efek kepada mahasiswa, utamanya mahasiswa semester akhir, seperti saya ini.

Mau tidak mau, banyak rencana yang harus diubah. Namun, aku yakin kalau ini semua sudah direncanakan Allah, dan Allah pasti memberikan hikmah yang indah.

Sebelum wabah korona membuat gempar Kota Malang, sebelumnya aku ada niatan sekitar seminggu untuk izin mengerjakan tesis. Sebab, sejauh ini tesisku masih on progress terus karena belum bisa maksimal mengerjakan. Aku pun sudah memikirkan matang-matang untuk merencanakan izin. Ternyata, beberapa saat kemudian, ada informasi yang mengejutkan kami semua di tempat les. Infonya ialah ada mahasiswa di salah satu universitas di Malang suspect Covid 19. Sejak informasi itu, aku pun langsung mengurungkan niatku untuk mengambil izin karena ketika aku mengambil izin, aku pasti akan menghabiskan waktu di perjalanan dan berinteraksi dengan orang lain. Alhasil, sekitar 2 minggu aku fokus untuk les.

Minggu-minggu terakhir ialah waktunya scoring rutin. Nilaiku masih naik-turun. Dan saat ini, mungkin ialah waktu terbaik untukku terus bisa memperbaiki 😅. Dan ternyata, ketika aku terus di homestay, banyak hal yang kudapatkan. Bukan hanya belajar IELTS, namun juga memupuk kedekatan dengan teman-teman. Biasanya, hampir setiap Sabtu Ahad selalu pulang ke kos. Namun, karena isu Corona ini aku bisa menikmati sisa hari bersama teman-teman DES. Shalat berjamaah, masak bersama, jalan-jalan, belanja di hari Ahad, dsb. Pasti ada hikmahnya 😊.

Namun, tentu saja. Tesisku terkendala. Sampai-sampai ditanyakan oleh dosbing karena aku sungguh telat dibandingkan teman-temanku huhu.

Namun, lagi-lagi aku juga beruntung. Karena Corona, aku bisa pulang kampung dan waktu ini bisa kumanfaatkan untuk fokus mengerjakan tesis.

Aku yakin, di setiap keadaan pasti ada pelajaran yang berharga. Tergantung pada kita, kita mengambil kesempatan atau menggerutu dengan keadaan.

Aku tidak pernah menyesal atas setiap keputusan dan hanya kepada-Nya lah segala urusanku kupasrahkan😊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT

Bismillah. Sahabat, marilah sejenak mengingat-ingat segala hal yang telah kita lakukan hari ini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kita semua tahu, waktu yang telah berlalu tak akan mungkin bisa kembali. Tak mungkin bisa berulang. Dan apapun yang telah kita lakukan, semua pasti diawasi oleh-Nya. Tiada lekang oleh penilaian-Nya, dan semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Lalu, hal apakah yang telah kita perbuat hari ini? Apakah hal yang penuh kebermanfaatan ataukah sebaliknya? Apakah di sela waktu tersebut selalu terselip nama-Nya dalam dzikir kita? Apakah telah terbaca merdu kalam-Nya pada setiap waktu yang dianugerahkan-Nya? Apakah kita telah meninggalkan hal yang tak bermanfaat untuk setiap detiknya? Marilah kita bersama bermuhasabah. Atas setiap detik waktu yang diberi. Atas setiap degup jantung yang berdetak. Atas setiap nafas yang berhembus. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. Marilah kita manfaatkan segala kesempatan yang ad...

Yuk, Kita Mulai

Telah banyak kisah teladan perihal bersedekah dan berbagi, utamanya kisah di zaman nabi dan para generasi terbaik setelahnya. Kali ini, sengaja saya memulai tulisan dengan memaparkan kisah para pendahulu kita, bukan dengan pengalaman saya ataupun orang-orang di sekitar saya. Alasannya disampaikan oleh hadits ini, “ Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”  (HR. Bukhari & Muslim). Maka, teladan terbaik ialah kisah di zaman Nabi Muhammad, kemudian generasi setelahnya. Kisah menarik datang dari seorang tabi’in, yang setiap hari pergi ke masjid di awal waktu. Setiap ia pergi ke masjid, sakunya tak pernah kosong; selalu ada isinya. Isi sakunya bisa bermacam-macam dan bisa bergonta-ganti di setiap harinya, tergantung pada barang yang ia punya. Ia pernah membawa uang, roti, maupun gandum. Bahkan suatu ketika, ia pernah membawa bawang merah di sakunya. Oleh karenanya, ia pun ditegur oleh salah satu sahabat,  “Me...