Langsung ke konten utama

Rasa

Sungguh, begitu sulit menebak-nebak perasaan itu. Tak begitu jelas mulanya, pun tak begitu jelas ujungnya. Aku pun tak begitu mahir mengira-ngira, bagaimana rasa itu bisa tumbuh dan bersarang disana. Katamu, rasa itu muncul begitu tiba-tiba, sekalipun dengan alasan yang tak biasa. Dan sayangnya, aku tak mampu menebaknya. Namun yang kurasa, semua pasti ada sebab dan akibatnya. Sayangnya lagi, kamu tak mau bercerita tentang penyebabnya. Ah, sudahlah. Aku tak mau menerkanya. Aku akan mencoba untuk membiarkannya, sembari bermuhasabah karenanya.
Mulanya, aku mengira rasa itu akan hilang dengan mudahnya sejak kalimat ketidaksiapan itu kulontarkan padamu, tersebab kamu sudah terlihat biasa-biasa saja terhadapku. Namun, nyatanya tidak. Malah katamu, tak baik jika harus menghilangkan rasa dengan terburu-buru, sebegitu cepatnya, sebagaimana pada saat munculnya rasa itu. Katamu, semua itu ada prosesnya. Hal yang terburu-buru malah tak akan baik jadinya. Karenanya, baiklah, aku akan mengikuti prosesnya. Semoga proses ini selalu berada dalam bimbingan-Nya, sehingga langkahku dan langkahmu tak akan kehilangan arahnya. Dan semoga jalan ini akan baik-baik saja.
Mungkin rasa itu ialah cinta. Cinta itu fitrah. Karenanya, kita tak boleh semata-mata menyalahkannya. Namun, cinta pula yang kadang mampu menjadi perangkap dalam buaiannya. Cinta pula yang mampu membutakan dengan segala kekurangan orang yang kita cinta. Padahal, bisa jadi orang yang kita cinta itu tak begitu baik. Hati-hati dengannya. Hati-hati ada setan yang menjadikan indah perasaan itu. Hati-hati jika ketaatan kita akan ternodai tersebab perasaan itu. Saranku, jika tengah ada perasaan itu, maka buanglah. Karena mungkin, rasa itu memang tak baik untuk terus disemai. Karena memang, kita tak boleh berharap pada manusia. Tak baik pula memberi harapan yang belum pasti adanya. Karenanya, lebih baik hentikan rasa itu, sembari terus bermusyawarah dan istikharah, sebagaimana Nabi telah mengajarkan kepada kita jikalau “Tidak akan menyesal orang yang beristikharah, tidak akan merugi orang yang bermusyawarah”.
Sabarlah. Tunggu saja waktunya. Saat kita berhak memunculkan rasa itu kembali. Pada saat yang tepat, ketika cinta itu menjadi halal untuknya. Untuknya, yang entah itu siapa, masih berada di rahasia-Nya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita MengASI-hi

Halo mom. Rasanya banyak sekali nih ceritaku tentang peran baruku sebagai ibu hehe. Malah peran baru sebagai istri belum pernah kutulis ya di blog ini. Semoga nanti sempat nulis deh. Yap, aku nulis ini sekaligus healing ya mom. Pas anak lagi tidur aku nyempetin nulis biar ada cerita yang bisa dikenang tentang lika liku membesarkan buah hatiku 🥰 Kali ini aku mau cerita tentang drama mengASI-hi ya mom. Mungkin bagi mom sekalian ini hal yang mudah, tapi bagiku ini perlu kesabaran ekstra di awal² menyusui  hehe 😆 Dan saya yakin setiap ibu pasti punya cerita perjuangannya masing². Awal cerita, Arya tidak bisa direct breast feeding (DBF) alias nenen langsung. Jadi di awal² kelahiran Arya dulu, Arya sering pakai dot sebagai media memberikan susu. Usai lahiran, ASI ku belum keluar, jadi waktu di rumah sakit Arya diberikan susu formula dulu. Ya, meskipun katanya bayi bisa bertahan sampai sekitar 3 hari sambil nunggu ASI, tapi banyak juga pengalaman yang bayinya kuning dan harus disinar ka...

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...