Langsung ke konten utama

Tidak Harus Sempurna, Tapi Harus Konsisten

Banyak orang ingin memperbaiki hidupnya.

Ingin ibadah lebih baik.
Ingin lebih sehat.
Ingin lebih produktif.
Ingin lebih hadir untuk keluarga.

Masalahnya bukan di keinginan.
Masalahnya ada di cara memulainya.

Sering kali, semua ingin diperbaiki sekaligus.
Semua ingin langsung rapi.
Semua ingin langsung berubah.

Dan akhirnya… tidak ada yang benar-benar berjalan.

Karena terlalu berat di awal.

Kita membuat standar yang tinggi,
lalu kecewa ketika tidak mampu menjalaninya.

Padahal, perubahan tidak bekerja seperti itu.

Hidup tidak butuh lompatan besar yang sesekali dilakukan.
Hidup butuh langkah kecil yang terus diulang.

Sederhana, tapi tidak mudah.

Bangun lebih pagi sedikit.
Makan lebih teratur.
Menyelesaikan satu pekerjaan kecil.
Menjaga satu kebiasaan baik.

Terlihat biasa saja.
Tapi di situlah letak kuncinya.

Bukan pada seberapa banyak yang dilakukan hari ini,
tapi pada apakah itu dilakukan lagi besok.

Dan besoknya lagi.

Konsisten itu tidak terlihat hebat di awal.
Tidak langsung menghasilkan sesuatu yang besar.
Bahkan sering terasa membosankan.

Tapi justru di situlah kekuatannya.

Karena yang benar-benar mengubah hidup bukan momen besar,
tapi kebiasaan kecil yang tidak berhenti.

Jadi, tidak perlu menunggu semuanya siap.
Tidak perlu menunggu waktu yang “ideal”.

Mulai saja dari yang paling mungkin dilakukan hari ini.

Tidak harus sempurna.
Tidak harus banyak.

Tapi harus konsisten.

Karena pada akhirnya,
yang bertahan bukan yang paling cepat,
tapi yang tidak berhenti berjalan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT

Bismillah. Sahabat, marilah sejenak mengingat-ingat segala hal yang telah kita lakukan hari ini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kita semua tahu, waktu yang telah berlalu tak akan mungkin bisa kembali. Tak mungkin bisa berulang. Dan apapun yang telah kita lakukan, semua pasti diawasi oleh-Nya. Tiada lekang oleh penilaian-Nya, dan semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Lalu, hal apakah yang telah kita perbuat hari ini? Apakah hal yang penuh kebermanfaatan ataukah sebaliknya? Apakah di sela waktu tersebut selalu terselip nama-Nya dalam dzikir kita? Apakah telah terbaca merdu kalam-Nya pada setiap waktu yang dianugerahkan-Nya? Apakah kita telah meninggalkan hal yang tak bermanfaat untuk setiap detiknya? Marilah kita bersama bermuhasabah. Atas setiap detik waktu yang diberi. Atas setiap degup jantung yang berdetak. Atas setiap nafas yang berhembus. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. Marilah kita manfaatkan segala kesempatan yang ad...

Yuk, Kita Mulai

Telah banyak kisah teladan perihal bersedekah dan berbagi, utamanya kisah di zaman nabi dan para generasi terbaik setelahnya. Kali ini, sengaja saya memulai tulisan dengan memaparkan kisah para pendahulu kita, bukan dengan pengalaman saya ataupun orang-orang di sekitar saya. Alasannya disampaikan oleh hadits ini, “ Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”  (HR. Bukhari & Muslim). Maka, teladan terbaik ialah kisah di zaman Nabi Muhammad, kemudian generasi setelahnya. Kisah menarik datang dari seorang tabi’in, yang setiap hari pergi ke masjid di awal waktu. Setiap ia pergi ke masjid, sakunya tak pernah kosong; selalu ada isinya. Isi sakunya bisa bermacam-macam dan bisa bergonta-ganti di setiap harinya, tergantung pada barang yang ia punya. Ia pernah membawa uang, roti, maupun gandum. Bahkan suatu ketika, ia pernah membawa bawang merah di sakunya. Oleh karenanya, ia pun ditegur oleh salah satu sahabat,  “Me...