Langsung ke konten utama

Kadang, Diam Adalah Cara Menjaga Diri

Ada satu fase dalam hidup di mana kita mulai belajar…

Tidak semua omongan orang harus kita dengarkan.

Bukan karena kita sombong,
bukan juga karena kita merasa paling benar.
Tapi karena kita mulai paham,
tidak semua kata membawa kebaikan.

Kadang, justru kata-kata itulah yang paling lama tinggal di hati.
Yang awalnya hanya lewat di telinga,
tapi kemudian berputar-putar di pikiran,
dan perlahan melukai tanpa kita sadari.

Dulu, aku termasuk orang yang cukup “mendengarkan semua”.
Takut tidak enak, takut dianggap tidak sopan,
takut kalau menolak nanti dinilai macam-macam.

Tapi ternyata, terlalu banyak mendengar juga bisa melelahkan.

Ada masa di mana kita perlu belajar menjaga diri.
Belajar memilah—mana yang perlu didengar,
mana yang cukup dilewatkan saja.

Tidak apa-apa kalau sesekali kita menolak.
Tidak apa-apa kalau kita memilih diam saat dikomentari.
Tidak semua hal harus dijelaskan,
tidak semua penilaian harus diluruskan.

Dan yang lebih penting,
tidak perlu takut pada komentar orang.

Karena pada akhirnya,
kita tidak hidup dari penilaian mereka.

Kita hanya sedang berusaha menjalani peran kita sebaik mungkin—
Sebagai ibu, sebagai istri, sebagai diri kita sendiri.

Selama kita masih berusaha berbuat baik,
meskipun kecil, meskipun sederhana,
Itu sudah cukup.

Tidak harus selalu terlihat hebat di mata orang,
Tidak harus selalu dipahami semua orang.

Karena hidup ini bukan tentang membuat semua orang setuju,
Tapi tentang tetap berjalan dengan hati yang tenang.

Pelan-pelan, aku belajar…
Bahwa menjaga hati sendiri juga bagian dari kebaikan.

Dan mungkin,
tidak semua yang kita diamkan adalah kelemahan.
Kadang, itu justru bentuk kekuatan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT

Bismillah. Sahabat, marilah sejenak mengingat-ingat segala hal yang telah kita lakukan hari ini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kita semua tahu, waktu yang telah berlalu tak akan mungkin bisa kembali. Tak mungkin bisa berulang. Dan apapun yang telah kita lakukan, semua pasti diawasi oleh-Nya. Tiada lekang oleh penilaian-Nya, dan semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Lalu, hal apakah yang telah kita perbuat hari ini? Apakah hal yang penuh kebermanfaatan ataukah sebaliknya? Apakah di sela waktu tersebut selalu terselip nama-Nya dalam dzikir kita? Apakah telah terbaca merdu kalam-Nya pada setiap waktu yang dianugerahkan-Nya? Apakah kita telah meninggalkan hal yang tak bermanfaat untuk setiap detiknya? Marilah kita bersama bermuhasabah. Atas setiap detik waktu yang diberi. Atas setiap degup jantung yang berdetak. Atas setiap nafas yang berhembus. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. Marilah kita manfaatkan segala kesempatan yang ad...

Yuk, Kita Mulai

Telah banyak kisah teladan perihal bersedekah dan berbagi, utamanya kisah di zaman nabi dan para generasi terbaik setelahnya. Kali ini, sengaja saya memulai tulisan dengan memaparkan kisah para pendahulu kita, bukan dengan pengalaman saya ataupun orang-orang di sekitar saya. Alasannya disampaikan oleh hadits ini, “ Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”  (HR. Bukhari & Muslim). Maka, teladan terbaik ialah kisah di zaman Nabi Muhammad, kemudian generasi setelahnya. Kisah menarik datang dari seorang tabi’in, yang setiap hari pergi ke masjid di awal waktu. Setiap ia pergi ke masjid, sakunya tak pernah kosong; selalu ada isinya. Isi sakunya bisa bermacam-macam dan bisa bergonta-ganti di setiap harinya, tergantung pada barang yang ia punya. Ia pernah membawa uang, roti, maupun gandum. Bahkan suatu ketika, ia pernah membawa bawang merah di sakunya. Oleh karenanya, ia pun ditegur oleh salah satu sahabat,  “Me...