Langsung ke konten utama

Belajar Membuat Batas, Agar Hati Tidak Terlalu Lelah

Ada satu hal yang baru benar-benar aku pelajari akhir-akhir ini…
tentang membuat batas (boundary).

Dulu, aku berpikir bahwa menjadi orang baik itu artinya selalu terbuka.
Mendengarkan semua orang, menerima semua komentar,
dan sebisa mungkin tidak menolak apa pun agar tidak menyakiti perasaan orang lain.

Tapi ternyata, tidak sesederhana itu.

Ada kalanya, justru karena kita terlalu terbuka,
kita jadi terlalu sering terluka.

Tidak semua orang bermaksud jahat,
tapi tidak semua ucapan juga bisa kita terima begitu saja.

Ada kata-kata yang mungkin terdengar biasa bagi yang mengucapkan,
tapi bagi yang menerima, bisa terasa dalam.

Dan aku mulai menyadari…
kalau semua itu terus dibiarkan,
yang lelah bukan orang lain—
tetapi hati kita sendiri.

Dari situ, aku pelan-pelan belajar membuat batas.

Bukan untuk menjauh dari semua orang,
bukan juga untuk memutus silaturahmi.
Tapi untuk menjaga diri,
agar tidak terus-menerus berada di situasi yang membuat hati tidak nyaman.

Aku juga mulai mengambil langkah kecil.

Bukan sesuatu yang besar,
tapi cukup berarti untuk diriku sendiri.

Aku memilih untuk tidak terlalu sering berkunjung ke rumah tersebut.
Bukan karena marah,
bukan juga karena ingin menjauh sepenuhnya.
Tapi karena aku tahu, ada kata-kata yang sering kali tanpa sengaja melukai.

Dan aku sedang belajar menjaga diriku dari itu.

Kadang batas itu memang tidak terlihat.
Tidak diumumkan, tidak dijelaskan.
Hanya kita yang tahu, dan itu cukup.

Tidak perlu menjelaskan terlalu banyak.
Tidak perlu menanggapi semua komentar.
Tidak perlu selalu hadir di setiap situasi.

Bahkan, kadang batas itu hanya berupa diam.

Diam yang bukan karena tidak bisa menjawab,
tapi karena memilih untuk tidak menambah luka.

Aku juga mulai belajar,
bahwa tidak apa-apa jika sesekali menolak.
Tidak apa-apa jika tidak selalu menyenangkan semua orang.

Karena pada akhirnya,
kita juga punya tanggung jawab untuk menjaga diri sendiri.

Menjaga hati agar tetap tenang,
agar tidak mudah goyah hanya karena ucapan orang.

Dan mungkin, membuat batas itu bukan tanda kita berubah menjadi orang yang dingin.
Justru itu tanda bahwa kita mulai mengenal diri sendiri.

Tahu mana yang perlu dijaga,
dan mana yang harus dilepaskan.

Pelan-pelan aku mengerti,
bahwa menjaga hati juga bagian dari berbuat baik.

Bukan hanya baik kepada orang lain,
tapi juga baik kepada diri sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT

Bismillah. Sahabat, marilah sejenak mengingat-ingat segala hal yang telah kita lakukan hari ini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kita semua tahu, waktu yang telah berlalu tak akan mungkin bisa kembali. Tak mungkin bisa berulang. Dan apapun yang telah kita lakukan, semua pasti diawasi oleh-Nya. Tiada lekang oleh penilaian-Nya, dan semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Lalu, hal apakah yang telah kita perbuat hari ini? Apakah hal yang penuh kebermanfaatan ataukah sebaliknya? Apakah di sela waktu tersebut selalu terselip nama-Nya dalam dzikir kita? Apakah telah terbaca merdu kalam-Nya pada setiap waktu yang dianugerahkan-Nya? Apakah kita telah meninggalkan hal yang tak bermanfaat untuk setiap detiknya? Marilah kita bersama bermuhasabah. Atas setiap detik waktu yang diberi. Atas setiap degup jantung yang berdetak. Atas setiap nafas yang berhembus. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. Marilah kita manfaatkan segala kesempatan yang ad...

Yuk, Kita Mulai

Telah banyak kisah teladan perihal bersedekah dan berbagi, utamanya kisah di zaman nabi dan para generasi terbaik setelahnya. Kali ini, sengaja saya memulai tulisan dengan memaparkan kisah para pendahulu kita, bukan dengan pengalaman saya ataupun orang-orang di sekitar saya. Alasannya disampaikan oleh hadits ini, “ Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”  (HR. Bukhari & Muslim). Maka, teladan terbaik ialah kisah di zaman Nabi Muhammad, kemudian generasi setelahnya. Kisah menarik datang dari seorang tabi’in, yang setiap hari pergi ke masjid di awal waktu. Setiap ia pergi ke masjid, sakunya tak pernah kosong; selalu ada isinya. Isi sakunya bisa bermacam-macam dan bisa bergonta-ganti di setiap harinya, tergantung pada barang yang ia punya. Ia pernah membawa uang, roti, maupun gandum. Bahkan suatu ketika, ia pernah membawa bawang merah di sakunya. Oleh karenanya, ia pun ditegur oleh salah satu sahabat,  “Me...