Langsung ke konten utama

Anak Aktif dan Ruang yang Tidak Selalu Mengerti

Tidak semua hal yang kita inginkan bisa dijalani dengan mudah di setiap fase kehidupan. Termasuk keinginanku untuk lebih aktif ikut kegiatan, datang ke kajian, atau sekadar duduk tenang di masjid. Nyatanya, itu tidak selalu sederhana ketika harus membawa anak yang sangat aktif.

Anakku tipe yang tidak bisa diam lama. Kalau diajak ke masjid, dia bisa lari ke sana ke sini, penasaran dengan banyak hal, dan sulit untuk duduk tenang dalam waktu lama. Pernah suatu waktu, ada yang berkomentar, “Anaknya mrusul ya” (istilah Jawa-nya banyak tingkah).

Aku tahu mungkin itu hanya celetukan biasa, tidak ada niat buruk. Tapi sebagai ibu, tetap saja ada perasaan tidak nyaman.

Di kesempatan lain, aku mencoba ikut kajian. Tapi tentu saja tidak bisa fokus sepenuhnya seperti yang lain. Aku memilih membacakan buku untuk anakku supaya dia tetap di dekatku dan tidak berlarian. Di saat itu, aku merasa sudah melakukan yang terbaik yang aku bisa. Tapi lagi-lagi ada komentar, “Kajian kok baca buku?” Kalimat sederhana, tapi cukup membuatku diam.

Di situ aku merasa… ternyata memang tidak semua orang akan mengerti kondisi kita. Tidak semua orang tahu bagaimana rasanya berusaha tetap hadir di lingkungan yang baik, sambil tetap mengurus anak yang sedang aktif-aktifnya. Dan mungkin tidak semua orang juga melihat usaha kecil yang sebenarnya sudah kita lakukan.

Sekarang aku mulai belajar menerima. Bahwa di fase ini, mungkin aku belum bisa seperti yang lain. Belum bisa duduk tenang, belum bisa fokus penuh, belum bisa terlihat “aktif” seperti yang diharapkan. Tapi bukan berarti aku tidak berusaha. Aku hanya sedang menjalani peranku dengan cara yang aku mampu.

Pelan-pelan aku juga belajar untuk tidak terlalu memasukkan semua komentar ke dalam hati. Karena kalau semua didengar, rasanya akan semakin berat. Yang terpenting, aku tahu apa yang sedang aku usahakan. Aku tahu aku sedang belajar menjadi ibu yang lebih baik, sambil tetap berusaha bertumbuh.

Dan mungkin itu sudah cukup untuk sekarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT

Bismillah. Sahabat, marilah sejenak mengingat-ingat segala hal yang telah kita lakukan hari ini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kita semua tahu, waktu yang telah berlalu tak akan mungkin bisa kembali. Tak mungkin bisa berulang. Dan apapun yang telah kita lakukan, semua pasti diawasi oleh-Nya. Tiada lekang oleh penilaian-Nya, dan semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Lalu, hal apakah yang telah kita perbuat hari ini? Apakah hal yang penuh kebermanfaatan ataukah sebaliknya? Apakah di sela waktu tersebut selalu terselip nama-Nya dalam dzikir kita? Apakah telah terbaca merdu kalam-Nya pada setiap waktu yang dianugerahkan-Nya? Apakah kita telah meninggalkan hal yang tak bermanfaat untuk setiap detiknya? Marilah kita bersama bermuhasabah. Atas setiap detik waktu yang diberi. Atas setiap degup jantung yang berdetak. Atas setiap nafas yang berhembus. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. Marilah kita manfaatkan segala kesempatan yang ad...

Yuk, Kita Mulai

Telah banyak kisah teladan perihal bersedekah dan berbagi, utamanya kisah di zaman nabi dan para generasi terbaik setelahnya. Kali ini, sengaja saya memulai tulisan dengan memaparkan kisah para pendahulu kita, bukan dengan pengalaman saya ataupun orang-orang di sekitar saya. Alasannya disampaikan oleh hadits ini, “ Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”  (HR. Bukhari & Muslim). Maka, teladan terbaik ialah kisah di zaman Nabi Muhammad, kemudian generasi setelahnya. Kisah menarik datang dari seorang tabi’in, yang setiap hari pergi ke masjid di awal waktu. Setiap ia pergi ke masjid, sakunya tak pernah kosong; selalu ada isinya. Isi sakunya bisa bermacam-macam dan bisa bergonta-ganti di setiap harinya, tergantung pada barang yang ia punya. Ia pernah membawa uang, roti, maupun gandum. Bahkan suatu ketika, ia pernah membawa bawang merah di sakunya. Oleh karenanya, ia pun ditegur oleh salah satu sahabat,  “Me...