Langsung ke konten utama

Aku, Mimpiku, Bangsa Kita

Mimpi, sebuah kata yang sarat akan makna. Tentu setiap orang memiliki mimpi, meskipun dengan mimpi yang berbeda-beda. Wajar. Semua orang bebas berilusi, pun bebas mengajak otaknya mengembara bersama sejuta mimpinya. Seorang yang dari kecil bermimpi menjadi pilot maka dia akan sangat bahagia ketika akhirnya dia bisa mengudara di atas awan. Seorang yang sejak kecil bermimpi menjadi penulis, tentu akan merasa hidupnya lebih berarti ketika pada akhirnya mampu menerbitkan sebuah buku. Ini pun terjadi pada setiap orang yang punya mimpi. Memang mimpi setiap orang tak sama, namun mereka pasti akan bahagia jika mimpi mereka bisa terwujud.
            Kita bebas membuat mimpi. Tak ada batas. Ratusan, ribuan, bahkan jutaan mimpi pun tak ada yang berhak memberi batas. Ibaratkan kita sebagai seorang pelayar. Seorang pelayar bebas mengarungi samudera yang dia mau, asalkan dia yakin jika dia mampu. Ketika seorang pelayar ingin mengarungi samudera, tentu ia harus tahu peta samudera tersebut, harus merancang dari awal perjalanan yang hendak dituju. Demikian pula aku, ketika aku menginginkan sebuah mimpi besar, tentu saja aku harus merancangnya dari awal dan aku harus yakin jika aku mampu menggapai mimpi-mimpiku. Yakin. Sebuah kata yang harus muncul pertama kali ketika kita ingin bermimpi besar. Yakin ketika telah ada usaha maka pasti akan ada hasil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanya Jawab Tentang Kepenulisan

1.     Bagaimana cara untuk mulai menulis ? Apabila ditanya cara untuk memulai menulis, tentunya ini bukanlah hal yang terlalu teoritis. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk memulai menulis dan mungkin cara mereka juga berbeda-beda. Ada yang memulai dengan menuliskan idenya di kertas dan membuat kerangkanya, ada yang langsung mengetik di komputer, ada yang mencari target lomba menulis terlebih dahulu, ada pula yang mempunyai banyak ide, namun susah menuliskannya sebelum berdiskusi. Nah, saya juga punya tips sendiri untuk memulai menulis. Inilah cara yang kerap kali saya terapkan ketika memulai menulis. a. Menuliskan target Menurut pengalaman saya, inilah cara yang paling ampuh untuk memulai menulis, terutama untuk penulis pemula. Dengan menuliskan target, maka secara tidak langsung akan memaksa dan membiasakan diri kita untuk menulis. Saya biasanya menulis target menulis terdekat di buku khusus untuk beberapa bulan ke depan. Apa yang saya tulis ialah da...

KERJAKAN SESUATU YANG BERMANFAAT

Bismillah. Sahabat, marilah sejenak mengingat-ingat segala hal yang telah kita lakukan hari ini. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Kita semua tahu, waktu yang telah berlalu tak akan mungkin bisa kembali. Tak mungkin bisa berulang. Dan apapun yang telah kita lakukan, semua pasti diawasi oleh-Nya. Tiada lekang oleh penilaian-Nya, dan semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Lalu, hal apakah yang telah kita perbuat hari ini? Apakah hal yang penuh kebermanfaatan ataukah sebaliknya? Apakah di sela waktu tersebut selalu terselip nama-Nya dalam dzikir kita? Apakah telah terbaca merdu kalam-Nya pada setiap waktu yang dianugerahkan-Nya? Apakah kita telah meninggalkan hal yang tak bermanfaat untuk setiap detiknya? Marilah kita bersama bermuhasabah. Atas setiap detik waktu yang diberi. Atas setiap degup jantung yang berdetak. Atas setiap nafas yang berhembus. Karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya. Marilah kita manfaatkan segala kesempatan yang ad...

Yuk, Kita Mulai

Telah banyak kisah teladan perihal bersedekah dan berbagi, utamanya kisah di zaman nabi dan para generasi terbaik setelahnya. Kali ini, sengaja saya memulai tulisan dengan memaparkan kisah para pendahulu kita, bukan dengan pengalaman saya ataupun orang-orang di sekitar saya. Alasannya disampaikan oleh hadits ini, “ Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.”  (HR. Bukhari & Muslim). Maka, teladan terbaik ialah kisah di zaman Nabi Muhammad, kemudian generasi setelahnya. Kisah menarik datang dari seorang tabi’in, yang setiap hari pergi ke masjid di awal waktu. Setiap ia pergi ke masjid, sakunya tak pernah kosong; selalu ada isinya. Isi sakunya bisa bermacam-macam dan bisa bergonta-ganti di setiap harinya, tergantung pada barang yang ia punya. Ia pernah membawa uang, roti, maupun gandum. Bahkan suatu ketika, ia pernah membawa bawang merah di sakunya. Oleh karenanya, ia pun ditegur oleh salah satu sahabat,  “Me...